Pengungsi tidak diizinkan bekerja secara legal di Malaysia, sementara anak-anak mereka juga tidak dapat mengakses sistem pendidikan nasional. Akibatnya, banyak yang bergantung pada sekolah yang dikelola organisasi nonpemerintah maupun pusat pembelajaran informal.
Setelah Nur mengalami intimidasi, guru sekaligus pengelola sekolahnya memutuskan menghentikan kegiatan belajar tanpa batas waktu demi alasan keamanan. Dua sekolah pengungsi lain di sekitar lokasi juga ikut ditutup.
Baca Juga:
Tragedi di Tengah Laut, 250 Pengungsi Rohingya Hilang Saat Cari Perlindungan
Guru tersebut mengatakan anak-anak Rohingya bahkan dikejar ketika bermain di taman umum.
Ia mendirikan sekolah tersebut pada 2022 untuk memberikan pendidikan dasar bagi anak-anak Rohingya agar siap jika suatu hari ditempatkan kembali di negara lain atau dapat pulang dengan aman ke Myanmar.
Guru yang juga merupakan pengungsi Rohingya itu membantah tudingan bahwa sekolah tersebut bertujuan membuat para pengungsi menetap permanen di Malaysia atau mengambil pekerjaan warga lokal.
Baca Juga:
Trailer “Lost Land” Dirilis, Angkat Perjuangan Kakak-Adik Rohingya di Tengah Bahaya
"Banyak yang menuduh kami melanggar hukum Malaysia. Bagi saya, mendirikan sekolah ini adalah salah satu cara mengajarkan orang lain untuk memahami dan mematuhi hukum," tuturnya.
Di negara bagian Kedah, pihak berwenang bulan ini juga menutup sebuah sekolah karena tidak memiliki izin setelah video mengenai bangunan sekolah tersebut beredar di media sosial, kata salah seorang guru yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Para guru di tiga sekolah Rohingya yang masih beroperasi mengatakan mereka kini mengambil berbagai langkah pencegahan agar tidak menjadi sasaran, termasuk melarang murid mengenakan seragam sekolah dan membatalkan seluruh kegiatan luar ruangan.