"Pada Selasa malam (7/4/2025), diumumkan oleh Trump, gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran dengan catatan Teheran membuka kembali Selat Hormuz."
Kesepakatan tersebut membuka peluang meredanya ketegangan, meskipun implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
Baca Juga:
Di Balik Serangan AS: Ludesnya 2 Juta Minuman Energi dan 950 Ribu Galon Kopi
Sebagai tindak lanjut, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan akan memulai pembicaraan dengan Amerika Serikat di Islamabad pada Jumat (10/4/2025).
Namun demikian, Trump menegaskan bahwa penghentian serangan Israel ke Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan dengan Iran karena keterlibatan Hizbullah dalam konflik tersebut.
"Diungkapkan Trump, penghentian serangan Israel ke Lebanon tidak termasuk dalam perjanjian dengan Iran karena kelompok Hizbullah."
Baca Juga:
Pimpinan Hizbullah Dikabarkan Tewas, Israel Hantam Hizbullah di Tengah Gencatan Senjata
Pernyataan itu memicu respons dari Iran yang menilai tindakan Israel tetap sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah dicapai dengan Washington.
Konflik ini sendiri bermula dari serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Jumat (28/2/2025), yang kemudian dibalas Iran dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Aksi balasan tersebut juga disertai pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz yang berdampak pada terganggunya pasokan energi global dan lonjakan harga minyak serta gas dunia.