Trump kemudian mengumumkan gencatan senjata selama 10 hari pada 16 April 2026 setelah adanya komunikasi langka antara pemerintah Israel dan Lebanon. Meski intensitas serangan ke Beirut menurun, pertempuran di wilayah selatan tetap berlangsung. Otoritas Lebanon mencatat lebih dari 3.500 orang tewas sejak 2 Maret, sementara Israel melaporkan 26 tentaranya dan empat warga sipil tewas akibat serangan Hizbullah.
Iran juga menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai bagian penting dari upaya mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat dan Israel serta membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia. Namun proposal terbaru yang mensyaratkan Hizbullah meninggalkan wilayah Lebanon selatan ditolak kelompok tersebut sehingga bentrokan masih berlanjut.
Baca Juga:
Rapat Lintas Kementerian Digelar, Tito Pastikan Hak Penyintas Banjir Terpenuhi
Sementara itu, hubungan AS dan Iran juga belum sepenuhnya stabil. Setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari yang menargetkan program nuklir dan rudal balistik Teheran, kedua pihak menyepakati gencatan senjata pada awal April dan memulai serangkaian perundingan tidak langsung.
Kesepakatan permanen hingga kini belum tercapai. Meski pembicaraan yang dimediasi Pakistan dan Qatar terus berlangsung, kedua pihak masih saling melancarkan serangan. Iran bahkan menargetkan sejumlah negara Teluk Persia, termasuk Kuwait, pada pekan ini.
Para analis menilai kegagalan ketiga gencatan senjata tersebut berakar pada tidak tercapainya kesepakatan politik jangka panjang. Fase awal penghentian konflik memang berhasil menurunkan skala peperangan, tetapi tidak mampu menyelesaikan isu-isu utama yang menjadi sumber pertikaian.
Baca Juga:
Batal, Adanya Kejanggalan Rekonstruksi Dugaan Korban Jadi Tersangka, Kuasa Hukum : Kita Akan Surati Komisi III DPR RI
"Ketika tidak ada pergerakan dan tidak ada cakrawala politik, sangat sulit bagi gencatan senjata untuk bertahan, karena tidak ada insentif nyata bagi pihak-pihak yang terlibat dalam gencatan senjata tersebut untuk terus mematuhinya jika hal itu sebenarnya tidak menghasilkan perubahan apapun," ujar Urban Coningham, peneliti di Royal United Services Institute.
Menurutnya, melemahnya pengaruh lembaga internasional serta meningkatnya ketegasan kekuatan-kekuatan regional turut memperkecil peluang tercapainya perdamaian yang lebih permanen di Timur Tengah.
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.