WAHANANEWS.CO, Jakarta - Seorang penumpang pria membuat penerbangan Qantas dari Melbourne menuju Dallas berubah menjadi mimpi buruk setelah diduga menggigit pramugari hingga pesawat terpaksa mendarat darurat di Tahiti.
Insiden itu terjadi dalam penerbangan QF21 yang lepas landas dari Melbourne pada Jumat (15/5/2026) pukul 14.30 waktu setempat menuju Dallas, Amerika Serikat.
Baca Juga:
Pemerkosa Mahasiswi di Makassar Ditangkap di Surabaya, Ternyata Masih Buka Lowongan Kerja Palsu
Sekitar tujuh jam setelah mengudara, awak kabin memutuskan mengalihkan rute ke Papeete, Tahiti, karena perilaku penumpang tersebut dinilai membahayakan keselamatan seluruh orang di dalam pesawat.
Saat situasi memanas, awak kabin dibantu sejumlah penumpang untuk mengendalikan pria tersebut.
“Keselamatan pelanggan dan awak kami adalah prioritas nomor satu,” ujar juru bicara Qantas.
Baca Juga:
Harga Tiket Pesawat Berpotensi Naik Lagi, YLKI Desak Transparansi Fuel Surcharge
Setelah pesawat mendarat di Papeete, otoritas setempat langsung naik ke kabin dan menurunkan penumpang yang diduga menyerang pramugari tersebut.
Maskapai Qantas kemudian menjatuhkan larangan terbang permanen terhadap pria itu untuk seluruh penerbangan Qantas dan Jetstar.
Usai proses penanganan dan pengisian bahan bakar, pesawat kembali melanjutkan perjalanan sekitar 35 menit kemudian.
Penerbangan tersebut akhirnya tiba di Dallas pada Sabtu (16/5/2026) pagi sesuai penjadwalan ulang.
“Kami tidak mentoleransi perilaku kasar atau mengancam di dalam pesawat,” tegas juru bicara Qantas.
Komika Mike Goldstein mengunggah video di media sosial yang memperlihatkan pria tersebut berdebat sengit dengan awak kabin.
Dalam rekaman itu, penumpang terlihat sempoyongan, memaki kru, dan menolak dipindahkan ke bagian belakang pesawat.
Ia juga sempat mengatakan ingin keluar dari pesawat untuk merokok meski pesawat sedang berada di udara.
Video tersebut tidak memperlihatkan aksi menggigit, namun menggambarkan situasi yang sangat tegang sebelum insiden terjadi.
Laporan Guardian Australia menyebut penumpang tersebut bukan warga negara Australia.
Belakangan diketahui pria itu diduga berada dalam kondisi mabuk saat insiden berlangsung.
Kasus ini menambah daftar panjang gangguan serius dalam penerbangan di Australia sepanjang 2025 hingga 2026.
Pada April 2026, seorang pria berusia 45 tahun dari Queanbeyan didakwa setelah berperilaku agresif dalam penerbangan Canberra menuju Perth.
Dalam insiden itu, pria tersebut juga dilaporkan mencoba menggigit penumpang lain saat sedang ditahan.
Ia menghadapi tiga dakwaan, termasuk menyerang awak kabin, dengan ancaman hukuman hingga 14 tahun penjara.
Pada Januari 2026, seorang perempuan asal Canberra diduga menyerang pramugari dalam penerbangan ke Perth.
Pada Februari 2026, penerbangan Virgin Australia dari Brisbane menuju Melbourne dipenuhi petugas pemadam kebakaran setelah sebuah vape terbakar dan mengeluarkan asap di kabin.
Pada 2025, seorang warga Yordania didakwa karena diduga mencoba membuka pintu pesawat yang tengah terbang menuju Sydney.
“Berada di udara tidak membebaskan siapa pun dari hukum dan konsekuensinya,” kata Pejabat Sementara Australian Federal Police, Peter Brindal.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]