Sinyal kekhawatiran mulai terlihat di pasar obligasi global, di mana premi surat utang pemerintah AS terhadap negara maju lain semakin menyempit dan menunjukkan berkurangnya kepercayaan investor.
“Ini adalah tanda bahwa pasar tidak seoptimis seperti sebelumnya. Semakin lama waktu berlalu, semakin besar tekanan yang bisa Anda hadapi di masa depan,” kata Valdés.
Baca Juga:
Bunga Utang RI 2026 Tembus Rp600 Triliun, Lembaga Pemeringkat Global Was-Was
Di tengah ketidakpastian tersebut, krisis di Timur Tengah, khususnya di kawasan Selat Hormuz, turut memperparah situasi dengan mendorong banyak negara menggelontorkan subsidi energi besar-besaran untuk meredam lonjakan harga bahan bakar.
Namun IMF mengingatkan bahwa kebijakan subsidi energi yang bersifat luas justru dapat menjadi bumerang karena membebani fiskal dan mengganggu mekanisme pasar.
"Subsidi energi berbasis luas adalah alat yang buruk. Mereka mendistorsi sinyal harga, mahal secara fiskal, dan sulit untuk dihentikan," ujar Valdés.
Baca Juga:
PLN Percepat Proyek PSEL, Dorong Kolaborasi Pemda dan Investor di Tiga Wilayah
Sebagai alternatif, IMF mendorong pemerintah untuk memberikan bantuan langsung yang lebih tepat sasaran kepada kelompok rentan guna menjaga daya beli tanpa merusak struktur fiskal.
Di tengah lanskap ekonomi yang suram, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) muncul sebagai potensi penyelamat yang dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas sektor publik secara signifikan.
Teknologi ini dinilai mampu memperkuat administrasi perpajakan, mengurangi kebocoran anggaran, serta meningkatkan kualitas layanan publik di sektor kesehatan dan pendidikan.