Namun Baqaei menekankan bahwa fokus pembicaraan terbaru bukan lagi semata soal nuklir, melainkan upaya mengakhiri konflik yang lebih luas.
"Negosiasi sebelumnya berfokus pada isu nuklir, tetapi sekarang negosiasi berfokus pada mengakhiri perang, dan secara alami cakupan topik yang dibahas menjadi lebih luas dan lebih beragam," katanya.
Baca Juga:
AS Tak Pernah Setujui Iran Perkaya Uranium, Gencatan Senjata Terancam Bubar
Ia menambahkan bahwa prioritas utama Iran justru terletak pada pencabutan sanksi dan kompensasi.
"Rencana 10 poin untuk pencabutan sanksi sangat penting bagi kami. Isu kompensasi atas kerusakan yang terjadi selama perang yang dipaksakan juga sangat penting."
Timbal Balik
Baca Juga:
IAEA Uangkap Iran Punya 200 Kg Uranium Disimpan Isfahan, Bisa Jadi Bom Nuklir
Pernyataan tersebut muncul setelah laporan media AS Axios menyebut Washington dan Teheran tengah membahas skema yang mencakup pelepasan dana Iran yang dibekukan sebesar US$20 miliar, sebagai imbalan atas penyerahan stok uranium yang diperkaya.
Meski demikian, Iran masih memiliki cadangan uranium dalam jumlah signifikan, termasuk yang diperkaya hingga 60%, mendekati ambang 90% yang diperlukan untuk senjata nuklir, serta stok uranium dengan tingkat pengayaan 20%.
Sebelum serangan AS pada Juni 2025, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memperkirakan Iran memiliki sekitar 440 kilogram uranium dengan pengayaan 60%, jauh di atas batas 3,67% yang ditetapkan dalam kesepakatan nuklir 2015 yang kemudian ditinggalkan oleh AS.