WAHANANEWS.CO, Jakarta - Iran mencatat rekor kelam dengan pemadaman internet nasional terlama di dunia, memutus komunikasi jutaan warga selama lebih dari sebulan penuh.
Pemadaman internet di Iran kini disebut sebagai yang terpanjang dalam sejarah untuk skala nasional, sebagaimana dilaporkan lembaga pemantau internet NetBlocks.
Baca Juga:
Iran Jatuhkan Dua Jet Tempur AS dalam Sehari, Termasuk A-10 Warthog
“Pemadaman internet di Iran kini menjadi pemadaman internet skala nasional terlama yang pernah tercatat di negara mana pun, melampaui semua insiden serupa lainnya dalam hal tingkat keparahan, memasuki hari ke-37 berturut-turut setelah 864 jam,” tulis NetBlocks.
Laporan tersebut disampaikan melalui platform X pada Minggu (5/5/2026) dengan menegaskan bahwa Iran menjadi negara pertama yang sempat memiliki konektivitas global lalu kembali membatasi diri ke jaringan nasional.
Sejak serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, Iran hampir sepenuhnya memblokir akses internet di seluruh wilayahnya.
Baca Juga:
Militer Iran Tegaskan Misi Penyelamatan F-15 AS Berakhir Gagal Total
Langkah tersebut diambil pemerintah Teheran untuk membatasi arus informasi yang beredar di tengah situasi konflik yang memanas.
Akibatnya, warga Iran mengalami kesulitan besar dalam berkomunikasi dan mengakses informasi dari luar negeri.
Dalam kondisi tersebut, jaringan telepon seluler hanya dapat digunakan untuk komunikasi domestik, sementara koneksi internasional terputus total.
Selain kebijakan pembatasan, sebagian gangguan jaringan juga dipicu oleh kerusakan infrastruktur akibat serangan militer yang merusak kabel serat optik.
Pemadaman ini bukan yang pertama terjadi pada tahun 2026, karena sebelumnya Iran juga mengalami gangguan internet dalam durasi panjang pada Januari.
Pada Rabu (8/1/2026), pemerintah Iran sempat mematikan total akses internet di tengah meningkatnya gelombang protes anti-pemerintah yang dipicu krisis ekonomi dan nilai mata uang.
Pemutusan tersebut berlangsung hampir tiga minggu hingga akhirnya pembatasan mulai dilonggarkan pada Selasa (28/1/2026).
Amnesty International menilai kebijakan pemadaman internet nasional ini bertujuan menutupi skala pelanggaran hak asasi manusia serta menekan penyebaran informasi terkait aksi protes.
Langkah tersebut terjadi bersamaan dengan gelombang demonstrasi luas yang direspons dengan tindakan represif oleh aparat pemerintah.
Menurut Royal Institute of International Affairs, Iran telah berulang kali menggunakan pemadaman digital sebagai alat untuk mengendalikan situasi domestik, termasuk pada 2019 dan 2022.
Namun, pemadaman pada 2026 dinilai jauh lebih ekstrem dan canggih dibandingkan sebelumnya karena juga menyasar intranet domestik.
Kebijakan ini tidak hanya memutus akses internet masyarakat sipil, tetapi juga membatasi layanan komunikasi seperti telepon dan pesan teks.
Di sisi lain, para pejabat pemerintah dilaporkan tetap dapat mengakses platform media sosial seperti X dan Telegram.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]