WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan perang memuncak setelah Amerika Serikat mengonfirmasi salah satu jet tempurnya ditembak jatuh di wilayah Iran, sementara media Iran mengklaim pilotnya telah ditangkap, Jumat (3/4/2026).
Insiden ini menjadi yang pertama sejak konflik berlangsung, sekaligus memicu operasi pencarian dan penyelamatan besar-besaran terhadap awak pesawat oleh militer AS.
Baca Juga:
2 Jet Tempur AS Ditembak Jatuh Iran, Trump Sebut Tak Pengaruhi Negosiasi
Disebutkan oleh laporan The Guardian, pesawat yang jatuh merupakan jet tempur F-15E yang membawa dua awak di dalamnya.
Media pemerintah Iran sebelumnya sempat mengklaim bahwa pesawat yang ditembak adalah F-35, bahkan merilis gambar puing-puing termasuk sirip ekor yang disebut berasal dari pesawat tersebut.
Namun, analisis pakar penerbangan menunjukkan bahwa puing-puing tersebut lebih sesuai dengan karakteristik F-15E milik Angkatan Udara AS dari skuadron 494 yang berbasis di RAF Lakenheath, Inggris.
Baca Juga:
Intelijen AS Bongkar Fakta, Kekuatan Militer Iran Masih Tangguh di Tengah Serangan
Dilaporkan oleh kantor berita Tasnim, pilot pesawat yang sempat melontarkan diri kini telah ditahan oleh pihak Iran, meskipun klaim awal sempat menyebut pilot tersebut tewas.
Pihak Amerika Serikat kemudian mengonfirmasi bahwa jet tempur F-15E memang telah ditembak jatuh dan operasi pencarian terhadap kedua awak sedang berlangsung, meski belum ada pernyataan resmi dari Pentagon.
Rekaman yang beredar dari wilayah Iran menunjukkan aktivitas helikopter militer AS jenis C-130 Hercules dan HH-60 Pavehawk yang terbang rendah serta melakukan pengisian bahan bakar di udara.
Hal ini memunculkan spekulasi bahwa awak pesawat kemungkinan berhasil keluar dan masih hidup di darat.
“Menunjukkan misi pencarian dan penyelamatan tempur sedang dilakukan untuk menemukan dan mengeluarkan dua awak pesawat dari F-15E,” kata pakar penerbangan Justin Bronk dari Royal United Services Institute.
Sebuah akun yang dikaitkan dengan Garda Revolusi Iran juga mengunggah gambar kursi pelontar di wilayah gurun yang disebut sesuai dengan tipe ACES II yang digunakan pada F-15E.
“Jika asli, ini menunjukkan bahwa setidaknya satu dari dua awak pesawat berhasil keluar dengan selamat,” kata Bronk.
Media Iran bahkan menyiarkan imbauan kepada warga untuk menyerahkan “pilot musuh” kepada pihak berwenang dengan imbalan hadiah.
Sebelumnya, Komando Pusat AS (CENTCOM) sempat membantah klaim Iran terkait jatuhnya jet F-35 lainnya di Pulau Qeshm di Selat Hormuz.
“Semua pesawat tempur AS telah diperhitungkan,” katanya.
Selama lima minggu konflik berlangsung, belum pernah ada jet tempur AS yang dilaporkan hilang di wilayah Iran hingga insiden ini terjadi.
Namun, tercatat sebelumnya tiga jet F-15E pernah ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Kuwait dalam insiden pada 1 Maret 2026.
Selain itu, sebuah jet F-35 dilaporkan sempat melakukan pendaratan darurat di pangkalan militer AS di Timur Tengah akibat kerusakan dari serangan darat.
Sementara itu, pesawat sistem peringatan dini E-3 Sentry milik AS juga dilaporkan hancur di pangkalan udara Prince Sultan di Arab Saudi akibat serangan Iran pada 27 Maret 2026.
Insiden jatuhnya F-15E ini semakin mempertegas eskalasi konflik yang kian terbuka dan berisiko memperluas keterlibatan militer di kawasan.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]