WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ancaman baru dari Timur Tengah kembali mengguncang dunia setelah Iran menyatakan siap menghadapi perang gesekan jangka panjang yang berpotensi menghancurkan ekonomi global.
Peringatan keras tersebut muncul setelah pasukan Iran menembaki dua kapal dagang di sekitar Selat Hormuz dan mengeluarkan ancaman terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
Baca Juga:
Ditengah Perang AS-Israel, Warga Iran Berusaha Jalani Hidup Seperti Biasa
“AS dan Israel harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa mereka akan terlibat dalam perang gesekan jangka panjang yang akan menghancurkan seluruh ekonomi Amerika dan ekonomi dunia,” kata penasihat panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Ali Fadavi, kepada televisi pemerintah Iran.
Ketegangan meningkat ketika Iran memperketat pengawasan dan tekanan militernya di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak dunia.
Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru menyatakan konflik tersebut bisa segera berakhir karena target militer di Iran semakin terbatas.
Baca Juga:
Mengejutkan! Perancis Sebut Serangan AS-Israel ke Iran Ilegal
Harga minyak global telah melonjak sejak Jumat (28/2/2026) setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi negara itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Serangan tersebut memicu eskalasi besar yang menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam konflik berskala luas.
Untuk meredam lonjakan harga energi dunia, Badan Energi Internasional kemudian mengumumkan rencana pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis negara anggotanya.
Langkah itu disebut sebagai pelepasan cadangan minyak terbesar yang pernah dilakukan organisasi tersebut.
Memasuki hari ke-13 konflik pada Kamis (12/3/2026), Iran melalui IRGC menyatakan akan memperluas target serangan.
Korps elit militer tersebut mengancam akan menargetkan pusat ekonomi serta institusi keuangan yang dianggap memiliki hubungan dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel.
Ancaman itu mendorong sejumlah perusahaan internasional mulai mengevakuasi karyawan mereka dari Dubai.
Perhatian dunia kini tertuju pada Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dan gas alam cair dunia.
Iran menyatakan pasukan angkatan lautnya telah menyerang kapal kontainer berbendera Liberia bernama Express Rome serta kapal pengangkut curah asal Thailand, Mayuree Naree.
Kedua kapal tersebut diserang karena tetap memasuki wilayah Selat Hormuz meski telah diperingatkan oleh Angkatan Laut IRGC.
Angkatan Laut Oman kemudian melakukan operasi penyelamatan terhadap awak kapal yang terdampak serangan tersebut.
Sebanyak 20 awak kapal berhasil diselamatkan sementara tiga orang lainnya masih dalam pencarian.
Foto yang dibagikan Angkatan Laut Thailand memperlihatkan asap hitam tebal membumbung dari kapal yang terkena serangan.
Para analis menilai penutupan Selat Hormuz dalam waktu lama dapat memicu guncangan besar bagi ekonomi dunia.
Jalur laut tersebut tidak hanya mengangkut minyak dan gas, tetapi juga sekitar sepertiga pasokan pupuk yang digunakan untuk produksi pangan global.
Dampaknya diperkirakan paling berat dirasakan negara-negara di Asia dan Eropa yang sangat bergantung pada jalur tersebut.
Presiden Prancis Emmanuel Macron kemudian mendesak para pemimpin negara anggota G7 untuk segera bertindak mengamankan jalur navigasi di Selat Hormuz.
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa meminta semua pihak yang terlibat konflik agar tetap membuka jalur pengiriman bantuan kemanusiaan.
Serangan Iran terhadap sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk turut memperburuk ketegangan geopolitik dan ekonomi.
Pada Rabu (11/3/2026), sebuah drone jatuh di dekat bandara Dubai dan menyebabkan empat orang mengalami luka-luka.
Peristiwa tersebut mendorong sejumlah perusahaan multinasional mulai menarik staf mereka dari wilayah tersebut.
Kelompok jasa keuangan asal Amerika Serikat Citi dan perusahaan konsultan asal Inggris Deloitte dilaporkan meminta karyawan mereka meninggalkan kantor di Dubai.
Serangan drone juga dilaporkan menghantam tangki bahan bakar di pelabuhan Salalah, Oman.
Perusahaan keamanan maritim swasta Vanguard Tech bahkan melaporkan penghentian sementara aktivitas pelabuhan setelah serangan terjadi di bagian selatan wilayah selat tersebut.
Dampak ekonomi dari konflik ini juga meningkatkan tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump.
Pemerintahan Gedung Putih menghadapi kritik karena dianggap memulai perang tanpa persiapan menghadapi konsekuensi globalnya.
“Kapan pun saya ingin itu berakhir, itu akan berakhir,” kata Trump dalam wawancara dengan Axios.
Di pihak lain, Israel menegaskan bahwa operasi militer mereka terhadap Iran akan terus berlanjut.
“Operasi ini akan berlanjut tanpa batas waktu, selama diperlukan,” kata Menteri Pertahanan Israel Israel Katz.
Israel menyatakan telah memulai gelombang baru serangan skala besar yang menargetkan wilayah Iran serta basis Hizbullah di ibu kota Lebanon, Beirut.
Serangan udara tersebut menghantam sebuah gedung apartemen di pusat kota Beirut yang menjadi penargetan kedua di jantung ibu kota sejak konflik dimulai.
Siaran langsung AFPTV menangkap suara ledakan keras yang diikuti bola api besar dari salah satu unit apartemen di bangunan bertingkat tersebut.
Seorang koresponden AFP melaporkan dinding lantai tujuh dan delapan bangunan tersebut hancur sementara kendaraan di sekitarnya rusak akibat ledakan.
Pasukan keamanan Lebanon terlihat berjaga di sekitar lokasi kejadian.
“Ketika serangan pertama terjadi, saya berlari dari kamar ke kamar, menarik istri dan putri saya keluar dari kamar dan menyembunyikan mereka di balik dinding, lalu serangan kedua terjadi,” kata Fawzi Asmar, seorang pemilik toko roti yang tinggal di dekat lokasi serangan.
Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terjadi hanya beberapa minggu setelah pemerintah Iran menindak keras gelombang protes besar di dalam negeri.
Meski demikian, Washington dan Tel Aviv menyatakan bahwa tujuan operasi mereka bukan untuk menggulingkan pemerintahan Republik Islam Iran.
Pemerintah Iran juga memperingatkan masyarakat agar tidak melakukan aksi protes selama situasi konflik berlangsung.
“Semua pasukan kami juga siap, dengan tangan di pelatuk, siap untuk membela revolusi mereka,” kata Kepala Polisi Nasional Iran Ahmad-Reza Radan dalam pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah IRIB.
Di tengah situasi perang, warga Iran berusaha menjalani kehidupan sehari-hari dengan segala keterbatasan yang ada.
“Kami telah menaruh kepercayaan kami kepada Tuhan. Untuk saat ini, ada makanan di toko-toko,” kata Mahvash (70), seorang warga Teheran.
Sebagian warga menyebut masyarakat mulai beradaptasi dengan kondisi konflik yang terus berlangsung.
“Orang-orang tenang,” kata seorang warga lain. “Mereka mulai terbiasa hidup terlepas dari segalanya dan beradaptasi, sebisa mungkin, dengan situasi ini.”
Perang di Timur Tengah dipicu oleh serangan awal Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Setelah kematian Khamenei, putranya Mojtaba Khamenei disebut ditunjuk sebagai penggantinya meskipun hingga kini belum muncul di hadapan publik.
“Saya mendengar kabar bahwa Mojtaba Khamenei telah terluka. Saya telah bertanya kepada beberapa teman yang memiliki koneksi,” tulis putra presiden Iran, Yousef Pezeshkian, dalam unggahan di saluran Telegram miliknya.
Duta Besar Iran untuk Siprus, Alireza Salarian, juga mengatakan bahwa Mojtaba Khamenei mengalami luka dalam serangan yang sama yang menewaskan ayahnya.
Kementerian Kesehatan Iran pada Minggu (8/3/2026) menyatakan lebih dari 1.200 orang tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel serta lebih dari 10.000 warga sipil lainnya mengalami luka-luka.
Angka korban tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh pihak luar.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]