WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kecelakaan udara dramatis terjadi di Amerika Serikat ketika sebuah jet pribadi terbakar dan jatuh sesaat setelah lepas landas dari Bandara Internasional Bangor, negara bagian Maine, pada Minggu (25/1/2025) malam.
Pesawat nahas tersebut diketahui membawa delapan orang, namun hingga kini otoritas setempat belum mengungkapkan identitas maupun kondisi para penumpang di dalamnya.
Baca Juga:
Medan Ekstrem Terlewati, Black Box ATR 42-500 Ditemukan dalam Kondisi Utuh
Dikonfirmasi otoritas penerbangan Amerika Serikat, Federal Aviation Administration menyebut pesawat yang terlibat kecelakaan merupakan jet bermesin ganda jenis Bombardier Challenger 600.
Disebutkan FAA, insiden terjadi sekitar pukul 19.45 waktu setempat saat pesawat sedang dalam proses lepas landas.
“Pesawat Bombardier Challenger 600 jatuh saat proses lepas landas di Bandara Internasional Bangor pada Minggu malam, dan insiden ini akan kami selidiki,” kata FAA dalam pernyataannya.
Baca Juga:
Awal 2026 Suram bagi ATR, Tiga Insiden Pesawat Terjadi dalam Tiga Pekan
Informasi rinci terkait penyebab kecelakaan hingga saat ini masih terbatas.
Namun demikian, seorang pejabat pemerintah yang mengetahui kejadian tersebut mengatakan bahwa kebakaran besar terjadi segera setelah pesawat jatuh.
Dilaporkan AP News, kondisi cuaca di Bandara Internasional Bangor saat itu diwarnai turunnya salju ringan sebelum kecelakaan terjadi.
Meski demikian, pihak berwenang belum memastikan apakah faktor cuaca berkontribusi terhadap jatuhnya pesawat tersebut.
Pada saat insiden berlangsung, peringatan badai musim dingin diketahui tengah diberlakukan di sebagian besar wilayah negara bagian Maine, termasuk kawasan Bangor.
Diungkapkan pejabat pemerintah tersebut, pesawat Bombardier Challenger 600 itu baru tiba di Maine setelah melakukan penerbangan dari Texas.
Diketahui pula, perusahaan yang tercatat sebagai pemilik pesawat memiliki alamat yang sama di Houston dengan Arnold & Itkin, sebuah firma hukum yang dikenal menangani kasus cedera pribadi.
Berdasarkan catatan FAA, pesawat tersebut mulai beroperasi sejak April 2020.
FAA menegaskan, penyelidikan kecelakaan ini akan dilakukan bersama Dewan Keselamatan Transportasi Nasional atau National Transportation Safety Board.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]