Ia menilai posisi strategis Indonesia tersebut tetap relevan hingga saat ini, bahkan semakin menguat di tengah perubahan geopolitik global.
Secara geografis, Indonesia berada di persimpangan dua samudra besar, yakni Samudra Hindia dan Pasifik.
Baca Juga:
Indonesia dan Kanada Tanda Tangani ICA-CEPA, Awal Babak Baru Perdagangan Indonesia dengan Amerika Utara
Letak ini menjadikan Indonesia memiliki peran vital dalam jalur perdagangan internasional.
Salah satu titik krusial yang disorot adalah Selat Malaka, yang disebut sebagai jalur perdagangan global yang sangat penting.
Menurut Pau Woo, peran Selat Malaka bahkan melampaui pentingnya Selat Hormuz dalam konteks tertentu, karena tidak hanya menjadi jalur distribusi energi, tetapi juga lalu lintas utama kapal kontainer dan kargo dunia.
Baca Juga:
Kolaborasi PLN dan YBM Hadirkan Sambungan Listrik Gratis bagi Warga Garut
"Jika Anda mengira blokade Selat Hormuz merupakan masalah bagi perekonomian dunia, bayangkan blokade Selat Malaka yang penting bukan hanya untuk jalur minyak dan gas, tetapi juga kapal kontainer dan kapal kargo curah," ujarnya.
Ia juga mengulas kiprah Indonesia dalam sejarah global sejak meraih kemerdekaan pada 1945.
Indonesia dinilai konsisten memainkan peran penting di panggung internasional, salah satunya melalui kepemimpinan dalam Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 yang menjadi tonggak solidaritas negara-negara berkembang.