Skema Pemisahan Lalu Lintas Selat Hormuz ini diadopsi IMO pada tahun 1968, menetapkan jalur rute melalui perairan Iran dan Oman. Perlu diketahui, bagian tengah Selat Hormuz saat ini tidak dapat digunakan karena risiko ranjau, menurut sumber-sumber keamanan pelayaran dan maritim.
Sebelumnya kelompok informasi angkatan laut utama mengusulkan koridor pelayaran alternatif Sabtu lalu. Mereka meminta pemilik kapal untuk mempertimbangkan melintasi selat melalui rute selatan dengan sinyal transponder mereka aktif.
Baca Juga:
Hubungan RI-Iran Disebut Sedang Terluka, Eks Dubes Bongkar Insiden Kapal Tanker hingga Kapal Perang
"Rute transit selatan, di sepanjang perairan teritorial Oman, telah dipastikan bebas ranjau dan merupakan rute yang direkomendasikan," bunyi pemberitahuan tersebut. Tapi tak diketahui pasti apakah rute ini yang dipakai untuk berlayar sesuai ketentuan IMO.
Sebenarnya, menurut analisis Kpler, lalu lintas Hormuz lainnya telah meningkat dalam beberapa hari terakhir, dengan pelayaran rata-rata lebih dari 25 kapal per hari dalam beberapa hari terakhir, dibandingkan dengan sekitar 10-11 kapal per hari sebelumnya. Ini masih sebagian kecil dari pelayaran harian rata-rata 125 kapal sebelum perang dimulai pada 28 Februari.
Saat ini, banyak kapal telah mengaktifkan transponder pelacakan AIS publik mereka. Meski, beberapa diyakini masih tidak terdeteksi sebagian karena gangguan besar pada sinyal AIS, serta sengaja tidak menunjukkan pergerakan saat melalui selat tersebut.
Baca Juga:
Kapal Gamsunoro Sukses Lintasi Selat Hormuz, Sinergi Sinergi Kemlu dan PIS
Menurut perkiraan IMO dan pasar, terdapat antara 500 dan 600 kapal yang terdampar di dalam Teluk, termasuk sebanyak 100 kapal tanker. Perlu diketahui, inisiatif IMO tidak mendukung kapal-kapal yang ingin memasuki Teluk untuk mengambil muatan minyak dari produsen Teluk.
Sementara itu, mengutip CNBC Internasional, Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah memperingatkan pemilik kapal bahwa setiap "rute transit baru" melalui Selat Hormuz yang dibuat tanpa koordinasi dengan Teheran adalah "tidak dapat diterima dan berbahaya. Iran mengancam tindakan terhadap kapal-kapal yang mengabaikan instruksinya.
Angkatan Laut IRGC mengatakan bahwa hanya rute pelayaran yang ditentukan oleh Iran yang diizinkan untuk dilalui. Koordinasi dengan pasukan Iran melalui saluran komunikasi yang ditentukan adalah wajib.