WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih setelah angkatan bersenjata Iran secara resmi ditempatkan pada tingkat kesiagaan militer tertinggi. Langkah ini diambil Teheran sebagai respons atas meningkatnya ancaman serangan dari Amerika Serikat (AS) dan Israel, di tengah gelombang protes antipemerintah yang kian meluas di dalam negeri.
Mengutip Newsweek, Kamis (8/1/2026), penasihat senior Panglima Tertinggi IRGC, Brigadir Jenderal Morteza Ghorbani, menyatakan bahwa sedikitnya 400 unit dari IRGC dan angkatan darat telah disiapkan untuk menghancurkan setiap agresi.
Baca Juga:
Trump Sebut AS Bakal Dapat Triliunan Dolar Dari Penjualan Minyak Venezuela
Ia memberikan peringatan keras terhadap pihak-pihak yang mencoba mengganggu kedaulatan Iran dalam situasi yang tidak stabil ini, seperti Israel yang sempat mengancam Teheran dengan memintanya melihat apa yang terjadi di Venezuela.
Kesiagaan ini mencakup kesiapan sistem rudal dan penguatan pangkalan militer di berbagai titik strategis. Pihak militer Iran menegaskan bahwa setiap tindakan bermusuhan dari pihak asing akan dibalas dengan respons yang proporsional dan tegas.
"Mereka sudah siap. Jika terjadi agresi, mereka akan meratakan Israel dengan tanah. Angkatan darat, IRGC, dan aparat penegak hukum saat ini berdiri dengan tangan berada di atas pelatuk," tegas Ghorbani dalam keterangannya kepada kantor berita Mehr.
Baca Juga:
Perang Tanpa Dentuman, Growler Ungkap Wajah Baru Operasi Militer AS
Situasi kian pelik bagi Teheran karena ancaman militer dari luar muncul saat Iran sedang diguncang protes massa selama dua pekan terakhir akibat krisis ekonomi dan anjloknya nilai tukar rial. Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras kepada Teheran agar tidak menggunakan kekerasan mematikan terhadap para pengunjuk rasa.
Trump mengisyaratkan kesiapan Washington untuk melakukan intervensi militer jika situasi semakin tidak terkendali.
Trump menegaskan bahwa Iran akan "dipukul dengan sangat keras" jika pasukan keamanan mereka membunuh lebih banyak demonstran. Dukungan publik Washington terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk memperbarui serangan terhadap program nuklir dan rudal Iran semakin menambah kekhawatiran Teheran akan adanya operasi militer gabungan dalam waktu dekat.