WAHANANEWS.CO, Jakarta - Amerika Serikat mulai menggeser kekuatan militernya dari kawasan Asia Pasifik menuju Timur Tengah di tengah memanasnya konflik dengan Iran yang terus menguras sumber daya militer Washington di kawasan tersebut.
Langkah ini memicu spekulasi baru mengenai potensi eskalasi perang yang lebih luas setelah bentrokan militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran semakin intens dalam beberapa pekan terakhir.
Baca Juga:
Washington Buru Pemimpin Baru Iran, Siapkan Hadiah Fantastis Rp169 Miliar
Pengerahan terbaru ini disebut melibatkan unsur pasukan dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 yang berbasis di Okinawa, Jepang, serta kapal serbu amfibi USS Tripoli yang sebelumnya berada di pangkalan angkatan laut Sasebo di Prefektur Nagasaki.
“Unsur-unsur dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 yang berbasis di Okinawa, Jepang, serta kapal serbu amfibi USS Tripoli dari Sasebo, Prefektur Nagasaki, telah dikerahkan ke palagan Timur Tengah,” ungkap seorang pejabat Amerika Serikat kepada Associated Press dengan syarat anonim.
Pengerahan tambahan ini dilakukan setelah sejumlah aset pertahanan Amerika Serikat di Timur Tengah dilaporkan mulai berkurang akibat rentetan serangan balasan yang dilancarkan Iran dalam konflik yang terus berkembang.
Baca Juga:
Krisis Iran Merambah ke Arah Tidak Menentu, Analis Beberkan 3 Skenario Akhir Perang di Arab
Eskalasi konflik sendiri bermula ketika pasukan Amerika Serikat bersama Israel melancarkan operasi militer terhadap Teheran pada 28 Februari 2026.
Sejak saat itu, kawasan Timur Tengah kembali terseret dalam spiral konflik yang semakin melebar dan melibatkan berbagai aktor militer di wilayah tersebut.
Pengiriman pasukan Marinir tersebut memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan operasi darat yang bisa saja terjadi dalam fase konflik berikutnya.
Namun demikian, Unit Ekspedisi Marinir pada dasarnya memiliki peran multifungsi yang tidak terbatas pada operasi tempur.
Selain pendaratan amfibi, unit ini juga memiliki kemampuan dalam pengamanan kedutaan besar, evakuasi warga sipil, serta operasi bantuan kemanusiaan saat terjadi bencana.
Laporan mengenai pengerahan pasukan ini pertama kali diungkap oleh The Wall Street Journal yang mengutip data pemantauan militer dan citra satelit.
Berdasarkan citra satelit tersebut, USS Tripoli sebelumnya terlihat berada di kawasan Samudra Pasifik selama beberapa hari sebelum bergerak menuju arah barat.
Pada pemantauan terbaru, kapal tersebut terdeteksi berlayar sendirian di sekitar perairan dekat Taiwan.
Dengan posisi itu, kapal serbu amfibi tersebut diperkirakan baru akan mencapai wilayah perairan dekat Iran dalam waktu lebih dari satu minggu ke depan.
Awal pekan ini, Angkatan Laut Amerika Serikat tercatat memiliki sedikitnya 12 kapal perang yang beroperasi di Laut Arab.
Armada tersebut termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln serta delapan kapal perusak yang telah lebih dulu ditempatkan di kawasan tersebut.
Apabila USS Tripoli bergabung dengan armada tersebut, kapal ini akan menjadi kapal terbesar kedua setelah USS Abraham Lincoln di wilayah operasi tersebut.
Meski demikian, jumlah pasti personel militer Amerika Serikat yang saat ini berada di Timur Tengah tidak diungkapkan secara terbuka.
Sebagai gambaran, Pangkalan Udara Al-Udeid yang merupakan salah satu fasilitas militer terbesar Amerika Serikat di kawasan itu biasanya menampung sekitar 8.000 personel militer.
Sementara itu, sejumlah analis menilai Amerika Serikat memasuki konflik bersenjata dengan Iran tanpa persiapan strategi yang benar-benar matang.
Perang yang telah berlangsung selama sekitar dua pekan ini bahkan dinilai mulai melebar dan berpotensi menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam konflik yang lebih luas.
Washington disebut terlalu optimistis dalam memperkirakan jalannya perang sehingga gagal mengantisipasi berbagai bentuk serangan balasan dari Teheran.
“AS memasuki perang tanpa persiapan, didorong oleh banyak angan-angan dan bukan oleh strategi yang dipikirkan dengan baik,” ujar Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez.
Penilaian tersebut disampaikan Vaez saat menyoroti berbagai perkembangan konflik yang menunjukkan ketidaksiapan Washington menghadapi perang asimetris yang dilancarkan Iran.
Menurutnya, situasi tersebut terlihat dari kegagalan Amerika Serikat dalam mengantisipasi serangan drone ke negara-negara Teluk, gangguan terhadap jalur pelayaran internasional, hingga kebutuhan mendesak untuk melakukan evakuasi warga sipil dari sejumlah wilayah konflik.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]