WAHANANEWS.CO, Jakarta - World Health Organization menyerukan dukungan internasional secara mendesak untuk menopang sistem kesehatan di sejumlah negara yang terdampak konflik di kawasan Timur Tengah.
Seruan ini muncul seiring meningkatnya intensitas kekerasan yang berdampak langsung pada lumpuhnya berbagai layanan kesehatan di wilayah tersebut.
Baca Juga:
Pembinaan Kemampuan Prajurit, Kajasdam XX/TIB pantau Kenaikan Sabuk Bela Diri PSM di Wilayah Korem 042/Gapu
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut sistem kesehatan di lima negara kini berada dalam kondisi yang sangat kritis.
Negara-negara tersebut meliputi Lebanon, Iran, Iraq, Syria, dan Jordan, dikutip dari Xinhua dan WHO, Sabtu, 4 April 2026.
Sebagai respons terhadap situasi darurat ini, WHO mengajukan permohonan pendanaan sebesar 30,3 juta dolar AS (sekitar Rp514,9 miliar).
Baca Juga:
Paradoks Program "Gentengisasi"
Dana tersebut direncanakan untuk mendukung berbagai upaya penanganan kesehatan selama periode Maret hingga Agustus 2026.
Pendanaan darurat ini akan difokuskan untuk menjaga keberlangsungan layanan kesehatan esensial, termasuk perawatan dasar bagi masyarakat terdampak.
Selain itu, dana juga akan digunakan untuk memperkuat layanan penanganan trauma bagi korban konflik, serta meningkatkan sistem pengawasan penyakit dan pengembangan sistem peringatan dini guna mencegah potensi wabah.
Tak hanya itu, WHO juga berupaya memperkuat kapasitas penanganan korban dalam jumlah besar, termasuk kesiapsiagaan menghadapi ancaman darurat kimia, biologis, radiologis, dan nuklir.
Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat sistem kesiapan nasional di tengah eskalasi konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.
Berdasarkan data WHO hingga 31 Maret, konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah telah menyebabkan lebih dari 4 juta orang terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka.
Selain itu, tercatat lebih dari 3.300 orang meninggal dunia dan sekitar 30.000 lainnya mengalami luka-luka akibat kekerasan yang terjadi.
WHO menilai kebutuhan terhadap layanan kesehatan di kawasan tersebut meningkat secara signifikan dalam waktu singkat.
Oleh karena itu, organisasi tersebut menegaskan bahwa dukungan global sangat dibutuhkan untuk mencegah sistem kesehatan di negara-negara terdampak mengalami keruntuhan yang lebih parah.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]