Erdogan menilai penurunan suku bunga ini dapat meningkatkan kegiatan ekspor, investasi, dan lapangan pekerjaan di Turki.
Padahal, bank sentral biasanya menaikkan suku bunga ketika inflasi melonjak untuk menghentikan ekonomi dari overheating.
Baca Juga:
Diskon Listrik 50 Persen Serap Rp13,6 Triliun, Inflasi Lebih Terkendali
Sejak 2019, Erdogan telah memecat tiga gubernur bank sentral yang menentang keinginannya untuk menurunkan suku bunga.
Lira telah kehilangan lebih dari 40 persen nilainya terhadap dolar sejak awal tahun.
Akibat penurunan nilai lira, banyak masyarakat mengkritik kebijakan Erdogan ini. Politikus oposisi di parlemen Turki menganggap inflasi yang terjadi menggiring Turki ke "malapetaka" paling gelap dalam sejarah.
Baca Juga:
Warga Pontianak Barat Antusias Berbelanja di Operasi Pasar Pemkot dan Mitra
Netizen Turki juga menyuarakan kekesalan mereka akan inflasi ini di media sosial.
Topik "kami sedang tenggelam" hingga "pemerintah mundur" sempat menjadi trending di Twitter Turki.
Selain itu, ada pekerja Turki yang langsung menukar gaji mereka dengan mata uang asing akibat inflasi ini.