WAHANANEWS.CO, Jakarta - Lonjakan harga minyak dunia yang dipicu konflik Iran membuat Washington mulai menimbang langkah tak terduga: membuka kembali keran minyak Rusia demi menenangkan pasar energi global.
Ketegangan perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu gangguan serius pada jalur pengiriman minyak dunia, terutama di kawasan Teluk yang menjadi salah satu pusat distribusi energi global.
Baca Juga:
Aceh Selatan Bebas 'Lampu Kedip' dengan SUTT PLN!
Serangan balasan Iran membuat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz—jalur strategis yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia—hampir berhenti sehingga pasar energi langsung bereaksi keras.
Harga minyak mentah melonjak tajam hingga 8,5 persen pada Jumat (6/3/2026) dan dalam sepekan terakhir kenaikannya hampir mencapai 30 persen akibat kekhawatiran terganggunya pasokan global.
Pada Senin (9/3/2026), harga minyak bahkan sempat menyentuh 119 dolar AS per barel atau sekitar Rp2 juta, level tertinggi sejak pertengahan 2022.
Baca Juga:
Penjualan Listrik Sektor Bisnis PLN UID Jawa Barat Tumbuh 7,92% pada 2025, Didominasi Oleh Data Center
Lonjakan harga energi itu terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan konflik di Timur Tengah hanya akan berakhir apabila Iran menyerah tanpa syarat.
Di tengah situasi pasar yang bergejolak, pemerintah Amerika Serikat kini mempertimbangkan langkah untuk melonggarkan sebagian sanksi terhadap ekspor minyak Rusia guna menambah pasokan energi dunia.
Kebijakan ini dipandang sebagai salah satu cara tercepat untuk meredakan tekanan harga yang meningkat akibat terganggunya distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.
“Kami mungkin akan mencabut sanksi terhadap minyak Rusia lainnya,” kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent kepada Fox Business.
Ia menjelaskan bahwa saat ini terdapat ratusan juta barel minyak mentah Rusia yang tertahan di laut karena terkena sanksi internasional.
“Ada ratusan juta barel minyak mentah yang terkena sanksi berada di laut,” ujar Bessent.
Menurutnya, kargo minyak tersebut pada dasarnya sudah siap dipasok ke pasar jika pembatasan yang berlaku dicabut.
“Pada dasarnya, dengan mencabut sanksi tersebut, Departemen Keuangan dapat menciptakan pasokan,” ujarnya.
Meski begitu, Washington menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak berarti mengendurkan tekanan terhadap Moskwa terkait perang di Ukraina.
Pemerintah AS menekankan bahwa pelonggaran sanksi hanya akan berlaku untuk kargo minyak Rusia yang sudah berada dalam perjalanan dan tertahan di laut.
“Kami akan terus mengumumkan langkah-langkah secara berkala untuk memberikan kelegaan bagi pasar selama konflik ini,” kata Bessent.
Langkah awal sebenarnya sudah dilakukan pemerintah Amerika Serikat dengan memberikan pengecualian sementara bagi India untuk membeli minyak Rusia yang sebelumnya tertahan akibat sanksi.
Izin tersebut diberikan hingga 3 April 2026, termasuk untuk pengiriman minyak yang menggunakan kapal-kapal yang berada di bawah berbagai rezim sanksi.
Kebijakan itu ditujukan untuk membantu negara-negara yang terdampak kekurangan pasokan energi dari Timur Tengah setelah konflik Iran memicu gangguan distribusi minyak dunia.
Di sisi lain, Gedung Putih juga menghadapi tekanan domestik karena lonjakan harga energi berpotensi memukul ekonomi Amerika Serikat.
Harga bensin yang meningkat dapat membebani konsumen serta dunia usaha, terutama ketika negara tersebut bersiap menghadapi pemilu paruh waktu pada November mendatang.
Sejumlah pejabat juga menyebut pemerintah tengah mempertimbangkan langkah tambahan untuk menekan harga energi.
Salah satu opsi yang dibahas adalah pelepasan cadangan minyak strategis Amerika Serikat bersama negara-negara anggota G7.
Opsi tersebut dikonfirmasi oleh Menteri Energi AS Chris Wright yang mengatakan bahwa pembahasan mengenai cadangan strategis masih berlangsung di tingkat pemerintah.
Para analis menilai pemerintah Amerika Serikat memiliki pilihan terbatas untuk menurunkan harga minyak secara cepat selama jalur pengiriman di Selat Hormuz masih terganggu.
Meski demikian, Presiden Donald Trump berusaha meredam kekhawatiran publik terkait lonjakan harga energi.
“Lonjakan tersebut merupakan harga yang sangat kecil yang harus dibayar oleh Amerika Serikat,” tulis Trump dalam unggahan di media sosial Truth Social.
Trump juga menyatakan bahwa dirinya memperkirakan dampak jangka panjang konflik Iran justru dapat menghasilkan harga energi yang lebih rendah bagi konsumen Amerika Serikat.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]