WAHANANEWS.CO, Jakarta - Langit di ibu kota Iran berubah kelam dan menyesakkan ketika hujan hitam turun di tengah kepulan asap raksasa setelah depot bahan bakar terbakar akibat serangan militer Israel yang mengguncang Teheran pada Minggu (8/3/2026).
Kebakaran besar yang terjadi sejak Sabtu malam (7/3/2026) memicu kepulan asap pekat yang membumbung tinggi ke atmosfer dan menyebar hingga puluhan kilometer, lalu bercampur dengan awan hujan sehingga memicu fenomena yang oleh warga disebut sebagai “hujan beracun”.
Baca Juga:
Iran Resmi Menunjuk Mojtaba Khamenei Sebagai Pemimpin Tertinggi Setelah Ayahnya Dibunuh
Kota Teheran yang dihuni hampir 10 juta jiwa mendadak diselimuti asap hitam tebal dari tangki bahan bakar yang terbakar, sementara sejumlah foto dan video yang beredar di media sosial memperlihatkan langit kota berubah gelap seperti tertutup kabut pekat.
Pada hari yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa Washington siap meningkatkan intensitas serangan terhadap Iran di tengah konflik yang terus memanas.
“Area dan kelompok orang yang sebelumnya tidak dipertimbangkan untuk dijadikan sasaran hingga saat ini, karena perilaku buruk Iran, sedang dipertimbangkan secara serius untuk dihancurkan sepenuhnya dan dipastikan akan dibunuh,” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social pada Sabtu (7/3/2026).
Baca Juga:
Beda Nada dengan Trump, Pentagon Sebut Serangan ke Khamenei Dilakukan Israel
Di lapangan, warga Iran mulai merasakan dampak langsung dari asap dan partikel beracun yang jatuh bersama hujan, mulai dari sesak napas hingga iritasi mata dan tenggorokan.
“Hujannya berwarna hitam, saya tidak percaya, saya melihat hujan hitam. Itu bahkan terjadi di Tajrish, yang jaraknya bermil-mil dari tangki minyak,” kata Kianoosh (44), warga Teheran.
Fenomena tersebut terjadi karena partikel hidrokarbon dari asap kebakaran bercampur dengan awan hujan dan kemudian jatuh kembali ke permukaan dalam bentuk gerimis yang tercemar.