Tak sampai di situ, secara terpisah, Trump juga mengatakan warning lain ke Iran dalam wawancara kepada Bloomberg News. Menurutnya "sangat tidak mungkin" ia akan memperpanjang gencatan senjata selama dua minggu tersebut.
Berdasarkan waktu mulainya, gencatan senjata secara teoritis berakhir Selasa malam, waktu Teheran. Meskipun demikian, dalam komentarnya kepada Bloomberg, Trump mengatakan berakhirnya gencatan senjata adalah sehari kemudian, pada Rabu malam waktu Washington.
Baca Juga:
AS Tak Pernah Setujui Iran Perkaya Uranium, Gencatan Senjata Terancam Bubar
Harga minyak melonjak tajam pada hari Senin, di mana minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate keduanya naik hampir 6%, masing-masing menjadi US$94 dan US$86 per barel. Kekhawatiran permusuhan dapat berlanjut dalam perang yang telah berlangsung selama berminggu-minggu, setelah Iran menutup kembali Selat Hormuz setelah pembukaan kembali singkat pada akhir pekan, kembali muncul.
Sementara itu di Iran, warga mulai mengeluh dampak perang. Apalagi ini terjadi di tengah ekonomi yang sulit.
"Satu-satunya hal yang ditunjukkan oleh 50 hari perang adalah bahwa tidak ada yang peduli dengan rakyat Iran," kata warga Teheran, seorang dokter berusia 30 tahun dengan syarat anonim.
Baca Juga:
Ancaman Trump Soal Penutupan Selat Hormuz, Iran Respons Tuntut Konpensasi
Trump sendiri kini mengalami penurunan drastis popularitas di AS, di mana langkah perangnya mendapat penentangan luas dan membuatnya di bawah tekanan. Merujuk NBC News Decision Desk, secara keseluruhan, hanya 37% orang dewasa AS menyetujui kinerja Trump sebagai presiden sementara 63% tidak menyetujuinya, termasuk 50% yang mengatakan mereka sangat tidak menyetujuinya.
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.