WAHANANEWS.CO, Jakarta - Rumor mengejutkan beredar di tengah memanasnya konflik Timur Tengah setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut-sebut mengalami luka serius bahkan tewas akibat serangan balasan Iran.
Isu tersebut menyebar luas di berbagai platform media sosial dan sejumlah media asing di tengah eskalasi konflik yang meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke beberapa kota di Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Baca Juga:
Konflik Meluas, Rudal Kheybar Shekan Kini Sasar Kantor PM Netanyahu
Spekulasi semakin berkembang karena Netanyahu tidak terlihat di ruang publik selama beberapa hari terakhir sehingga memicu berbagai pertanyaan mengenai kondisinya.
Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Israel maupun pihak berwenang yang menyatakan bahwa Netanyahu mengalami luka atau meninggal dunia.
Spekulasi mengenai kondisi Netanyahu bermula dari laporan kantor berita Iran Tasnim News Agency yang dirilis pada Selasa (11/3/2026).
Baca Juga:
Bocor ke Publik: Netanyahu Bujuk Trump Agar AS Tak Gempur Iran
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Netanyahu kemungkinan terluka parah atau bahkan tewas akibat serangan balasan terbaru Iran dalam konflik yang sedang berlangsung.
Tasnim menyoroti absennya Netanyahu dari hadapan publik selama hampir empat hari yang dinilai tidak lazim karena sebelumnya ia kerap menyampaikan pesan video hampir setiap hari kepada masyarakat.
Disebutkan pula bahwa selama periode tersebut pernyataan yang dikaitkan dengan Netanyahu hanya dirilis dalam bentuk tertulis tanpa disertai rekaman video maupun foto terbaru.
Media tersebut juga mengklaim bahwa Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir serta saudara Netanyahu, Iddo Netanyahu, kemungkinan turut menjadi korban dalam serangan tersebut.
Namun dalam laporan yang sama Tasnim mengakui bahwa klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Spekulasi mengenai kondisi Netanyahu juga meningkat setelah dua utusan Amerika Serikat, Steve Witkoff dan Jared Kushner, secara mendadak membatalkan rencana kunjungan mereka ke Israel.
Kunjungan tersebut sebelumnya dijadwalkan untuk membahas perkembangan konflik yang terus meluas antara Israel dan Iran.
Hingga saat ini baik pemerintah Amerika Serikat maupun pejabat Israel belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan pembatalan kunjungan tersebut.
Di saat yang sama, sejumlah laporan juga menyebutkan adanya peningkatan pengamanan di sekitar kediaman resmi perdana menteri Israel.
Namun belum ada pernyataan resmi yang mengaitkan peningkatan keamanan tersebut dengan kondisi Netanyahu.
Situasi ini terjadi di tengah konflik yang semakin meluas sejak 28 Februari ketika serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel memicu eskalasi militer dengan Iran.
Konflik tersebut kemudian melibatkan kelompok Hizbullah di Lebanon serta gerakan Houthi di Yaman yang memperluas area pertempuran di kawasan Timur Tengah.
Laporan terbaru menyebut jumlah korban jiwa dalam konflik tersebut telah melampaui 2.000 orang sementara ratusan ribu lainnya terpaksa mengungsi dari wilayah terdampak.
Di sisi lain, media Israel The Jerusalem Post menyebut kabar mengenai kematian atau luka Netanyahu sebagai teori konspirasi yang tidak memiliki dasar bukti kuat.
Menurut laporan media tersebut, rumor yang beredar hanya menggabungkan sejumlah informasi tidak langsung seperti absennya video terbaru Netanyahu, peningkatan keamanan di sekitar rumahnya, serta penundaan kunjungan pejabat asing.
Laporan Tasnim juga mengutip klaim mantan perwira intelijen Amerika Serikat Scott Ritter yang disampaikan melalui media Rusia bahwa Iran disebut telah membombardir lokasi persembunyian Netanyahu dan menewaskan saudaranya.
Namun The Jerusalem Post menampilkan sejumlah informasi publik yang menunjukkan bahwa Netanyahu masih menjalankan aktivitas resmi sebagai perdana menteri Israel.
Kantor Perdana Menteri Israel tercatat merilis pernyataan resmi dari Netanyahu pada 7 Maret.
Portal Pemerintah Israel juga melaporkan bahwa Netanyahu mengunjungi lokasi dampak serangan di Beersheba pada 6 Maret.
Selain itu laporan lain menyebut Netanyahu melakukan percakapan telepon dengan Presiden Perancis Emmanuel Macron yang diumumkan oleh Istana Elysee.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]