WAHANANEWS.CO, Jakarta - Di tengah ancaman konflik kawasan yang bisa meledak sewaktu-waktu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diam-diam meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump menahan diri dan menunda rencana serangan militer terhadap Iran, Kamis (16/1/2026).
Kekhawatiran Israel dan sejumlah negara Arab muncul karena serangan Amerika dikhawatirkan akan dibalas Iran dengan menghantam target di kawasan, termasuk Israel dan pangkalan militer AS.
Baca Juga:
Machado Klaim Serahkan Nobel Perdamaian ke Trump dalam Pertemuan Politik
“Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dari Israel telah meminta Presiden Trump untuk menunda rencana serangan militer Amerika terhadap Iran,” kata seorang pejabat senior Amerika Serikat, dikutip The New York Times, Kamis (16/1/2026).
Netanyahu diketahui berbicara langsung dengan Trump pada Rabu (15/1/2026), bertepatan dengan pernyataan Trump yang mengklaim menerima informasi dari “sumber yang sangat penting di pihak lain” bahwa Iran telah menghentikan pembunuhan terhadap pengunjuk rasa dan menunda eksekusi.
Sinyal tersebut ditafsirkan sebagai indikasi Trump mulai menarik rem atas opsi serangan militer terhadap Iran yang selama beberapa hari terakhir dipertimbangkannya.
Baca Juga:
Trump Mulai Nikmati Minyak Venezuela, Penjualan Perdana Tembus Rp 8,4 Triliun
Meski demikian, seorang pejabat senior AS menegaskan pada Rabu malam (15/1/2026) bahwa Trump belum sepenuhnya menutup opsi militer yang diajukan para komandannya.
“Keputusan akan bergantung pada langkah berikutnya dari badan keamanan Iran terkait protes massal,” ujar pejabat tersebut.
Tekanan untuk menahan diri juga datang dari Qatar, Arab Saudi, Oman, dan Mesir yang secara aktif meminta Washington tidak menyerang Iran.