WAHANANEWS.CO, Jakarta - Di tengah gempuran tanpa henti dari Iran, Israel kini mulai kehabisan “peluru mahal” dan terpaksa menghemat penggunaan rudal pencegat paling canggihnya.
Militer Israel dilaporkan mulai menjatah penggunaan rudal interseptor tingkat atas guna menjaga ketersediaan stok di tengah serangan rudal Iran yang telah berlangsung selama empat pekan terakhir.
Baca Juga:
Samin Tan Terseret Kasus Tambang Raksasa: Baru Bebas, Kini Ditangkap Lagi
Langkah penghematan ini diambil setelah dua rudal balistik Iran berhasil menembus sistem pertahanan dan menghantam wilayah Dimona serta Arad.
Kegagalan intersepsi tersebut terjadi saat Israel mencoba menggunakan amunisi modifikasi dengan kemampuan di bawah standar interseptor utama.
"Jumlah interseptor dari setiap jenis itu terbatas, seiring berjalannya pertempuran jumlahnya akan terus berkurang, dan saat stok menipis Anda harus membuat perhitungan yang lebih cermat mengenai apa yang harus digunakan," ujar analis Missile Defense Advocacy Alliance, Tal Inbar, Jumat (27/3/2026).
Baca Juga:
Iran Dikabarkan Sakit Hati, Indonesia Pernah Lelang Kapal Persia Rp 1,17 T
Selama ini Israel mengandalkan sistem pertahanan udara berlapis yang terdiri dari Iron Dome untuk jarak pendek, David’s Sling untuk ancaman menengah, serta Arrow 2 dan Arrow 3 untuk mencegat rudal balistik di luar atmosfer.
Untuk menghemat penggunaan sistem Arrow yang mahal dan terbatas, militer Israel mulai memodifikasi sistem di lapisan bawah agar mampu menghadapi ancaman yang lebih berat.
"Kami mencoba menariknya ke lapisan atas dan menjauhkan titik intersepsi dari daratan sejauh mungkin, di beberapa area ini bekerja dengan baik namun di area lain tidak," ungkap mantan Komandan Pertahanan Udara Israel, Ran Kochav.