WAHANANEWS.CO, Jakarta - Barack Obama kembali melempar sindiran tajam kepada Donald Trump yang dinilainya masih terus menyeret namanya, meski ia sudah hampir satu dekade meninggalkan Gedung Putih.
Sindiran itu disampaikan Obama saat berbincang dengan mantan pemain NBA Matt Barnes dan Stephen Jackson dalam podcast All The Smoke yang tayang pada Rabu (24/6/2026).
Baca Juga:
Apk Undangan Palsu Masih Makan Korban, Ini Cara Cepat Selamatkan HP dan Rekening
Dalam wawancara tersebut, Obama menilai Trump tampak begitu sulit lepas dari bayang-bayang dirinya hingga ia menyebut seolah memiliki ruang khusus di kepala Presiden ke-47 Amerika Serikat itu.
"Soal obsesi itu, Anda harus bertanya kepadanya. Saya jelas punya kamar di kepalanya. Bahkan suite di kepalanya," kata Obama.
Obama kemudian menjelaskan bahwa hanya Trump sendiri yang bisa menerangkan alasan mengapa dirinya masih kerap dijadikan sasaran kritik.
Baca Juga:
Awas! Malware Baru Menyebar Lewat WhatsApp, Sekali Klik Bisa Kuasai Perangkat
Ia membandingkan kondisi itu dengan masa ketika dirinya menjabat sebagai presiden dan harus berhadapan dengan banyak persoalan negara setiap hari.
"Ketika saya jadi presiden, hal yang paling tidak saya lakukan adalah mengkhawatirkan apa yang dikatakan seseorang atau apa yang dilakukan pendahulu saya. Mereka sudah pergi. Saya harus bekerja," ujar Obama.
Menurut Obama, seorang presiden seharusnya tidak menghabiskan energi untuk terus menilai atau membandingkan diri dengan pemimpin sebelumnya.
Ia menyebut jabatan presiden menuntut fokus penuh karena setiap hari ada masalah besar yang harus ditangani dan keputusan penting yang harus diambil.
"Ide bahwa saya akan mengkhawatirkan pendahulu saya dan terus mengukur apa yang ia lakukan hari ini adalah hal yang aneh bagi saya. Itu menunjukkan bahwa seseorang tidak fokus pada rakyat Amerika dan pekerjaan yang seharusnya mereka lakukan," kata Obama.
Pernyataan itu menambah panjang dinamika panas antara Obama dan Trump yang sudah berlangsung sejak sebelum Trump pertama kali maju ke Gedung Putih.
Trump selama ini dikenal kerap mengkritik Obama dalam berbagai kesempatan, mulai dari kebijakan luar negeri hingga peninggalan politik pemerintahan sebelumnya.
Salah satu serangan paling kontroversial Trump terhadap Obama adalah promosi teori konspirasi birther yang mengeklaim Obama tidak memenuhi syarat menjadi presiden karena disebut lahir di Kenya.
Trump juga berulang kali menyerang kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 yang dinegosiasikan pada era pemerintahan Obama.
Dalam isu geopolitik, Trump pernah menyalahkan Obama atas pencaplokan Crimea oleh Rusia yang terjadi pada masa pemerintahan presiden ke-44 Amerika Serikat itu.
Belakangan, Trump kembali menyindir Obama melalui kritik terhadap Obama Presidential Center di Chicago.
Trump menyebut bangunan pusat kepresidenan itu sebagai proyek yang sangat tidak menarik dan bahkan menyebutnya sebagai bencana total.
Tidak berhenti di situ, Trump juga disebut mengunggah meme hasil kecerdasan buatan atau AI di Truth Social yang menggambarkan gedung pusat kepresidenan Obama dipenuhi sampah.
Obama sebelumnya juga pernah melontarkan sindiran terselubung terhadap Trump saat berbicara dalam acara peresmian Barack Obama Presidential Center and Library.
Dalam pidato itu, Obama mengingatkan bahwa Amerika Serikat dibangun di atas prinsip bahwa tidak ada raja maupun bangsawan di negara tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa tidak seorang pun berada di atas hukum maupun berada di bawah perlindungan hukum.
Sindiran itu dinilai menjadi pesan politik Obama terhadap gaya kepemimpinan Trump yang kerap dituding para pengkritiknya terlalu personal dan konfrontatif.
Perseteruan dua tokoh tersebut kembali mencuri perhatian karena Obama secara terbuka menyebut Trump tampak masih memikirkan dirinya, meski tugas utama presiden seharusnya berfokus pada rakyat Amerika.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]