WAHANANEWS.CO, Jakarta – Serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada Februari 2026 kerap digambarkan sebagai keberhasilan badan intelijen Israel, Mossad.
Namun sejumlah pengamat militer menilai operasi tersebut sebenarnya sangat bergantung pada dukungan intelijen dan teknologi Amerika Serikat melalui Central Intelligence Agency (CIA).
Baca Juga:
Mossad Terlalu Optimis, Realita Perang Iran Tak Sesuai Harapan
Melansir CNBC Indonesia, Selasa (10/3/2026), serangkaian operasi pembunuhan yang menargetkan tokoh penting Iran dan sekutunya dalam beberapa tahun terakhir disebut tidak hanya bergantung pada kemampuan intelijen Israel. Sejumlah analis menilai peran intelijen Amerika Serikat (AS) menjadi faktor kunci di balik keberhasilan operasi tersebut.
Para analis dari International Institute for Strategic Studies (IISS) menyebut operasi tersebut mengandalkan bank target serta pengawasan elektronik waktu nyata yang disediakan oleh CIA. Intelijen Amerika dilaporkan memantau pergerakan Khamenei selama berbulan-bulan dan memastikan keberadaannya di kompleks kepemimpinan Teheran pada hari serangan.
Informasi itu kemudian memicu keputusan bersama AS-Israel untuk mengubah waktu serangan dari malam menjadi siang.
Baca Juga:
Di Tengah Gelombang Protes, Iran Gantung Pria yang Dituduh Agen Mossad
Selain dukungan intelijen, operasi tersebut juga disebut melibatkan teknologi militer Amerika, termasuk drone pengintai dan sistem persenjataan presisi untuk membantu penargetan sasaran strategis.
Pola kerja sama tersebut sebelumnya juga terlihat dalam operasi yang menewaskan pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, pada September 2024. Dalam operasi itu, Angkatan Udara Israel dilaporkan menggunakan puluhan bom penghancur bunker buatan AS untuk menghancurkan pusat komando bawah tanah.
Analis politik Timur Tengah yang berbasis di Istanbul, Mamoun Abu Amer, mengatakan operasi semacam itu merupakan hasil kolaborasi beberapa badan intelijen Barat.