WAHANANEWS.CO, Jakarta - Situasi perang antara Amerika Serikat dan Iran kian buntu saat memasuki pekan ketiga, menyeret Presiden AS Donald Trump ke dalam tekanan politik dan militer yang semakin sulit dikendalikan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini menghadapi kebuntuan serius dalam konflik Iran yang telah berlangsung selama tiga pekan, dipicu oleh kegagalannya menetapkan tujuan akhir yang jelas serta ketidakmampuan meyakinkan publik domestik mengenai urgensi perang tersebut.
Baca Juga:
PLN Pastikan SPKLU Jalur Mudik Siap, Pemudik EV Lebih Aman dan Nyaman
Tekanan dari dalam negeri semakin menguat setelah seorang pejabat senior kontraterorisme AS mengundurkan diri pada Selasa (17/3/2026), sebagaimana dilaporkan Wall Street Journal.
Pejabat yang dimaksud adalah Joe Kent, Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional yang selama ini dikenal sebagai loyalis Trump.
"Iran tidak memberikan ancaman nyata bagi Amerika Serikat," ujar Kent.
Baca Juga:
Direktur Retail dan Niaga PLN Tinjau SPKLU Jalur Mudik di Rest Area KM 229B, Pastikan Pemudik Kendaraan Listrik Aman dan Nyaman
Ia juga mengaku tidak bisa lagi mendukung perang yang sedang berlangsung tersebut secara moral.
"Saya tidak dapat mendukung perang ini dengan hati nurani yang bersih," katanya.
Meski Trump berulang kali mengklaim Iran telah dihancurkan melalui serangan gabungan AS dan Israel, hingga kini ia belum berani mendeklarasikan kemenangan secara penuh.
Sejak serangan udara dimulai pada 28 Februari, kekuatan militer dan politik Iran memang mengalami pelemahan signifikan, namun hingga kini Teheran belum menunjukkan tanda-tanda menyerah.
Trump bahkan menyebut bahwa AS telah melumpuhkan angkatan laut, rudal balistik, hingga struktur kepemimpinan Iran, meski sejumlah laporan media AS menyebut pemerintahannya gagal mengantisipasi kemampuan balasan Iran yang meluas.
Dampak konflik ini mulai terasa secara global dengan melonjaknya harga minyak dunia, seiring meluasnya ketegangan di kawasan Timur Tengah dari Lebanon hingga Teluk, termasuk serangan terhadap kedutaan besar AS di Irak.
Trump juga menghadapi kritik karena dinilai sepihak mendukung Israel tanpa mandat Kongres maupun koordinasi dengan sekutu internasional.
Negara-negara Eropa secara halus menolak permintaan AS untuk membantu pengamanan Selat Hormuz yang kini diblokade Iran.
Pada Senin (16/3/2026), Trump mengaku terkejut atas eskalasi serangan Iran yang menyasar negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Qatar, meskipun sebelumnya telah ada peringatan dari Teheran.
"Mereka seharusnya tidak menyerang semua negara lain di Timur Tengah. Tidak ada yang menyangka itu. Kami terkejut," ujar Trump.
Kekecewaan sekutu semakin terlihat, termasuk dari Jerman yang secara tegas menolak keterlibatan dalam konflik tersebut.
Perang antara AS dan Iran bukan bagian dari tanggung jawab NATO, tegas Kanselir Jerman Friedrich Merz pada Senin (16/3/2026).
Ia juga memastikan Jerman tidak akan terlibat dalam pengawalan di Selat Hormuz maupun operasi militer lainnya.
Menurut Merz, pembicaraan diplomatik tidak bisa dimulai sebelum AS dan Israel menyatakan bahwa tujuan militer mereka telah tercapai.
Para analis menilai pendekatan militer semata tidak akan cukup untuk mengakhiri konflik yang semakin kompleks ini.
Richard Haass, Presiden Emeritus Council on Foreign Relations, menyebut bahwa meskipun konflik dimulai secara sepihak oleh AS, penyelesaiannya tetap membutuhkan persetujuan dari Israel dan Iran.
"Semakin lama perang ini berlangsung, keseimbangan antara biaya dan manfaatnya akan semakin bergeser ke arah biaya," kata Haass.
Pandangan serupa disampaikan Sina Toossi dari Center for International Policy yang menilai tidak ada opsi ideal dalam situasi saat ini.
"Jalan yang paling realistis adalah deeskalasi melalui negosiasi yang memungkinkan semua pihak menjaga harga diri," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa AS dapat mengklaim keberhasilan dalam melemahkan Iran, sementara Iran bisa mengklaim mampu bertahan dan membalas tekanan.
Sementara itu, Mona Yacoubian dari Center for Strategic and International Studies menggambarkan kondisi kawasan sebagai skenario terburuk yang sedang terjadi.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]