WAHANANEWS.CO, Jakarta - Serangan udara Israel di Beirut pada malam hari diklaim menewaskan sosok kunci Hizbullah, memicu potensi eskalasi baru di Timur Tengah yang sudah rapuh oleh konflik berkepanjangan.
Israel menyatakan telah menewaskan pemimpin kelompok bersenjata Lebanon yang didukung Iran, Hizbullah, Naim Qassem, dalam serangan tersebut.
Baca Juga:
Dibujuk Arab Saudi hingga Qatar, Trump Urungkan Serangan ke Iran
Kabar yang dilaporkan Reuters pada Kamis (9/4/2026) itu masih menunggu konfirmasi dari pihak Hizbullah, namun jika terbukti benar, peristiwa ini akan menjadi pukulan besar bagi kelompok tersebut sekaligus bagi Iran sebagai sekutu utamanya di kawasan.
Meski gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang didukung Amerika Serikat telah berlaku sejak 2024 usai lebih dari satu tahun konflik, Israel tetap melancarkan serangan berkala terhadap target yang diklaim sebagai basis Hizbullah.
Israel menuding Hizbullah terus berupaya membangun kembali kekuatan militernya di tengah masa gencatan senjata tersebut.
Baca Juga:
Trump Mendadak Lunak, Iran Cukup Hentikan Program Nuklir 20 Tahun
Hizbullah di sisi lain menolak untuk melucuti senjata sebagaimana diusulkan Amerika Serikat dalam upaya memperpanjang masa damai.
Ancaman keras sebelumnya juga sempat dilontarkan Qassem terhadap Israel terkait kemungkinan perang besar.
"Rudal akan menghantam negara itu jika Israel kembali melancarkan perang besar terhadap Lebanon."