WAHANANEWS.CO, Jakarta - Presiden Prancis, Emmanuel Macron, kembali menegaskan komitmennya untuk mendorong pelaksanaan operasi damai multinasional guna membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang saat ini terganggu akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Langkah ini dinilai penting mengingat peran Selat Hormuz sebagai salah satu jalur vital perdagangan energi global, khususnya minyak mentah.
Baca Juga:
Konflik Global Picu Krisis Energi, Rusia Prioritaskan Pasar Asia
Mengutip laporan Anadolu pada Sabtu, 4 April 2026, Macron menyampaikan rencana tersebut saat melakukan kunjungan resmi ke Korea Selatan.
Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa Prancis bersama mitra internasional berupaya menjaga keamanan dan kelancaran arus pelayaran di kawasan tersebut.
“Kami ingin membuka kembali Selat Hormuz,” kata Macron. Misi damai akan mengawal kapal tanker dan kapal kargo melalui perairan strategis tersebut.
Baca Juga:
Drone Hantam Kapal di Selat Hormuz, Iran Klaim Target Terkait Israel
Macron menjelaskan, operasi ini akan mengedepankan mekanisme dekonflik dengan Iran, terutama setelah tercapainya gencatan senjata atau situasi yang lebih kondusif.
Selain memastikan keamanan pelayaran, misi tersebut juga diarahkan untuk membuka ruang dialog yang lebih luas terkait berbagai isu sensitif.
Ia menyebutkan, upaya diplomasi akan difokuskan pada negosiasi komprehensif mengenai aktivitas nuklir, pengembangan program balistik, serta keterlibatan jaringan proksi regional Iran yang selama ini menjadi perhatian komunitas internasional.
Meski demikian, Macron menegaskan bahwa pendekatan militer bukanlah solusi utama untuk menyelesaikan konflik yang terjadi.
“Saya tidak percaya situasi akan selesai hanya dengan pengeboman atau operasi militer,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menghormati kedaulatan rakyat dalam menentukan arah perubahan politik di suatu negara.
Menurutnya, stabilitas jangka panjang hanya dapat dicapai melalui dialog dan kesepakatan bersama, bukan melalui tekanan bersenjata.
Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Gangguan di kawasan ini terjadi setelah konflik memanas di Iran, yang dipicu oleh serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Kondisi tersebut berdampak luas terhadap pasar global, termasuk lonjakan harga energi serta meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dunia.
Sejumlah negara pun mulai mencari alternatif jalur distribusi untuk mengantisipasi gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]