WAHANANEWS.CO, Jakarta - Tentara bayaran Rusia yang didukung Kremlin dipukul mundur dari kota strategis Kidal di Mali utara. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Presiden Rusia Vladimir Putin dan memperlihatkan mulai retaknya pengaruh Moskow di kawasan Sahel Afrika.
Melansir CNBC Indonesia, Selasa (12/5/2026) Laporan CNN International menyebut Korps Afrika, yakni pasukan penerus Grup Wagner yang kini berada di bawah Kementerian Pertahanan Rusia, terpaksa meninggalkan Kidal bulan lalu setelah mendapat tekanan besar dari kelompok pemberontak Tuareg dan militan terkait Al Qaeda. Ironisnya, pasukan Rusia hengkang di bawah cemoohan para pemberontak yang sebelumnya justru ingin mereka hancurkan.
Baca Juga:
Putin Tetapkan Gencatan Senjata 2 Hari, Ukraina Diingatkan Soal Serangan
Kekalahan ini dinilai memalukan bagi Kremlin. Sebab, selama beberapa tahun terakhir Rusia berusaha memosisikan diri sebagai mitra keamanan utama negara-negara Afrika setelah pengaruh Barat merosot di kawasan tersebut.
Video dilaporkan beredar di media sosial. Dalam potongan gambar diperlihatkan bagaimana konvoi kendaraan Rusia diejek pejuang Tuareg saat keluar dari pangkalan mereka di Kidal.
Serangan besar dimulai pada 25 April ketika kelompok separatis Tuareg yang tergabung dalam Front Pembebasan Azawad (FLA) beraliansi dengan militan terkait Al Qaeda. Serangan gabungan itu disebut sebagai salah satu yang paling berani dalam lebih dari satu dekade terakhir di Mali.
Baca Juga:
AS Mau "Ukrainakan" Iran? Trump Tiru Taktik Putin
Aliansi tersebut berhasil merebut sejumlah pangkalan militer di Mali utara dan memaksa Korps Afrika Rusia bernegosiasi demi mendapatkan jalur aman keluar dari Kidal. Padahal, Kidal sebelumnya direbut pasukan Mali bersama tentara bayaran Rusia pada 2023.
Kemenangan itu sempat dianggap simbol keberhasilan Moskow menggeser dominasi Barat di Sahel. Sahel sendiri merupakan kawasan luas di bawah Gurun Sahara yang mencakup negara-negara seperti Mali, Burkina Faso, Niger, Chad, hingga Sudan, yang kini dikenal sebagai salah satu pusat terorisme paling mematikan di dunia.
Krisis Mali semakin memburuk setelah Menteri Pertahanan Mali, Sadio Camara, tewas dalam serangan bom bunuh diri di dekat ibu kota Bamako. Camara dikenal sebagai tokoh penting di balik kedekatan rezim junta Mali dengan Rusia.
Kelompok Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) yang berafiliasi dengan Al Qaeda mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Kondisi ini membuat janji Rusia untuk menstabilkan Mali mulai dipertanyakan.
Analis senior Armed Conflict Location & Event Data Project (ACLED), Héni Nsaibia, juga menilai strategi keamanan Rusia gagal menyelesaikan akar persoalan di Sahel. "Dukungan militer Rusia memang cepat, tetapi sangat sedikit mengatasi pendorong utama militansi seperti lemahnya tata kelola, korupsi, marginalisasi sosial-ekonomi, ketegangan etnis, dan rendahnya legitimasi negara," kata Nsaibia.
Selama ini Rusia memperluas pengaruh di Afrika melalui model kerja sama keamanan sebagai imbalan akses sumber daya alam. Pendekatan itu diperkuat lewat Grup Wagner yang aktif di Libya, Mozambik, hingga Republik Afrika Tengah.
Namun, transisi dari Wagner ke Korps Afrika belum mampu menghentikan meningkatnya ketidakamanan di Mali, Burkina Faso, dan Niger. Di tengah situasi tersebut, Mali bersama Burkina Faso dan Niger kini mulai mencari alternatif baru dengan memperluas kerja sama pertahanan ke negara seperti China dan Turkey.
[Redaktur: Alpredo Gultom]