Ketegangan Iran dan Amerika Serikat meningkat sejak Teheran melakukan penindakan terhadap gelombang protes domestik yang disertai pemadaman internet.
Dalam periode tersebut, Presiden Donald Trump menyampaikan sinyal yang beragam terkait kemungkinan intervensi militer terhadap Iran.
Baca Juga:
Korban Tewas Unjuk Rasa Iran Masih Misterius, Pejabat Sebut Capai 5.000 Orang
Washington sebelumnya bergabung dalam perang 12 hari yang dipimpin Israel pada Juni 2025 dengan tujuan melemahkan program nuklir dan rudal balistik Iran.
Di Washington, Trump disebut tengah mempertimbangkan seluruh opsi terkait Iran, termasuk kemungkinan melancarkan serangan militer besar.
“Jika perintah serangan terhadap Iran dikeluarkan, Trump ingin bisa segera mendeklarasikan kemenangan,” demikian laporan yang mengutip sejumlah pejabat dan sumber anonim.
Baca Juga:
Ketegangan AS-Iran Meningkat di Dewan Keamanan PBB, Tuduhan dan Bantahan Mengemuka
Namun, Trump juga menyadari bahwa serangan terhadap Iran jauh lebih kompleks karena kemampuan militernya yang besar serta posisi geografis Teheran yang jauh dari wilayah pesisir.
Perbedaan lain disebut terletak pada jalur diplomasi, di mana hingga kini pejabat Iran menolak berkomunikasi langsung dengan Amerika Serikat.
Trump pada Rabu (28/1/2026) menyatakan sebuah “armada besar” sedang bergerak cepat menuju kawasan Iran.