“Hidup dengan perasaan bahwa Anda telah membunuh orang yang tidak bersalah adalah perasaan yang sangat sulit dan tidak bisa diperbaiki,” sambungnya.
Kesaksian serupa datang dari seorang reservis Israel bernama Paul (28) yang mengaku harus meninggalkan pekerjaannya sebagai manajer proyek karena trauma yang terus menghantuinya setelah kembali dari medan tempur.
Baca Juga:
Militer Israel Bunuh Dua Remaja Palestina, Keluarga: Mereka Hilang Sejak Malam Sebelumnya
“Saya hidup dalam kondisi waspada setiap hari,” ungkap Paul, seraya mengatakan suara siulan peluru masih terngiang di telinganya meski telah berada jauh dari zona perang.
Temuan komite parlemen Israel mengungkapkan bahwa sepanjang Januari 2024 hingga Juli 2025 terdapat 279 tentara yang melakukan percobaan bunuh diri.
Statistik tahun 2024 menunjukkan bahwa personel tempur menyumbang 78 persen dari seluruh kasus bunuh diri di Israel.
Baca Juga:
Israel Larang Palang Merah Kunjungi Tahanan Palestina, Dunia Kecam Alasan Keamanan Negara
Situasi ini diperparah oleh proses administrasi yang berbelit-belit untuk mendapatkan pengakuan resmi sebagai penderita PTSD dari pemerintah Israel, yang sering kali memakan waktu berbulan-bulan dan dinilai para ahli justru memperburuk kondisi mental prajurit.
Di sisi lain konflik, penderitaan psikologis warga Gaza digambarkan jauh lebih sistematis dan masif.
Lebih dari 71.000 warga Palestina dilaporkan tewas, sementara anak-anak di Gaza kini menunjukkan gejala trauma akut seperti teror malam dan hilangnya kemampuan fokus.