WAHANANEWS.CO, Jakarta - Isyarat pengunduran diri Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengguncang panggung politik London setelah surat kabar Observer melaporkan bahwa ia diperkirakan akan menyampaikan jadwal kepergiannya pada Senin (22/6/2026).
Laporan Observer yang dilansir Reuters menyebut Starmer tengah berada di bawah tekanan politik besar setelah ancaman terhadap posisinya terus membesar selama beberapa bulan terakhir.
Baca Juga:
Bocah 9 Tahun di Batam Dianiaya Ibu Tiri, Terungkap Usai Ayah Minta Donasi
Tekanan itu meningkat tajam pada Jumat (19/6/2026), setelah rival politiknya, Andy Burnham, memenangkan kursi parlemen yang membuka jalan baginya untuk secara resmi meluncurkan tantangan kepemimpinan.
Observer melaporkan Starmer sedang membahas masa depan politiknya bersama istrinya di kediaman resmi Chequers sebelum mengambil keputusan akhir.
Sejumlah tokoh senior Partai Buruh disebut memperkirakan akan ada pernyataan yang lebih jelas mengenai masa depan Starmer paling cepat pada Senin (22/6/2026).
Baca Juga:
Baru Mendarat dari Singapura, Richard Arief Muljadi Langsung Diciduk Kejagung
Namun, seorang sumber pemerintah menyatakan Starmer masih fokus menjalankan tugas pemerintahan dan merujuk pada pernyataan-pernyataan sebelumnya yang telah disampaikan sang perdana menteri.
"Saya akan melawan setiap tantangan terhadap kepemimpinan saya," kata Starmer pada Jumat (19/6/2026).
Pernyataan itu disampaikan Starmer ketika tekanan internal di Partai Buruh semakin terbuka dan sebagian anggota parlemen mulai mendorong perubahan kepemimpinan.
"Partai Buruh tidak boleh menghancurkan diri sendiri melalui pertikaian internal," ujar Starmer.
Starmer sebelumnya membawa Partai Buruh yang berhaluan kiri-tengah meraih kemenangan besar dalam pemilu 2024.
Namun, popularitasnya kemudian merosot tajam setelah serangkaian skandal dan pembalikan kebijakan membuat banyak pemilih kecewa terhadap janji perbaikan taraf hidup yang pernah ia sampaikan.
Kekecewaan publik terhadap pemerintahan Starmer disebut semakin dalam karena banyak pemilih menilai perubahan yang dijanjikan tidak kunjung terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Jika Starmer benar-benar mundur atau dilengserkan, Inggris akan memiliki perdana menteri ketujuh hanya dalam kurun sedikit lebih dari satu dekade.
Pergantian pemimpin yang begitu cepat itu akan menjadi salah satu tingkat perputaran kekuasaan tertinggi Inggris dalam hampir dua abad terakhir.
Situasi tersebut juga mencerminkan kemarahan publik terhadap kegagalan sejumlah pemerintahan berturut-turut dalam memperbaiki layanan publik dan menangani isu-isu besar seperti imigrasi ilegal.
Menurut perhitungan Reuters, lebih dari 100 anggota parlemen dari Partai Buruh secara terbuka telah menyatakan keinginan agar Starmer mundur atau menetapkan jadwal pengunduran dirinya.
Jumlah tersebut setara sekitar seperempat dari seluruh perwakilan Partai Buruh di House of Commons.
Observer, tanpa menyebutkan sumber laporannya, menyatakan Starmer telah sampai pada kesimpulan bahwa posisinya tidak lagi dapat dipertahankan.
Kesimpulan itu disebut muncul setelah Starmer berbicara dengan para menteri kabinet, penasihat, donor, dan pemimpin serikat buruh.
Di tengah tekanan tersebut, Andy Burnham menjadi figur yang paling banyak disorot sebagai calon pengganti Starmer.
Burnham yang berusia 56 tahun merupakan politikus karier dan selama ini dipandang banyak kalangan di Partai Buruh sebagai salah satu tokoh paling kuat untuk memimpin partai.
Ia dapat menjadi pengganti Starmer melalui transisi kekuasaan yang dinegosiasikan ataupun melalui kontestasi kepemimpinan resmi.
Burnham membangun basis politik yang kuat saat menjabat sebagai Wali Kota Greater Manchester di Inggris utara.
Pada Jumat (19/6/2026), Burnham berhasil memenangkan pemilihan kursi parlemen yang kosong setelah menyingkirkan ancaman dari partai populis sayap kanan milik Nigel Farage.
Kemenangan itu membuat Burnham memiliki pijakan formal di parlemen untuk menantang kepemimpinan Starmer.
Meski demikian, Burnham belum langsung mengajukan tantangan resmi kepada Starmer.
Dalam pidato kemenangannya, Burnham menjanjikan arah baru bagi negara.
Para sekutu Burnham mendesak Starmer agar bersedia mundur dan menyerahkan kekuasaan secara sukarela.
Selain Burnham, mantan menteri kesehatan Wes Streeting juga menyatakan kesiapannya untuk menantang Starmer.
Sementara itu, surat kabar The Times yang juga dilansir Reuters melaporkan pada Sabtu (20/6/2026), bahwa Burnham akan memecat Menteri Keuangan Rachel Reeves jika ia menjadi perdana menteri.
Laporan tersebut menyebut para penasihat Burnham menilai Reeves tidak cukup mewakili perubahan arah yang besar bagi pemerintahan baru.
Namun, Reuters menyatakan belum dapat segera memverifikasi laporan The Times tersebut.
[Redaktur: Sandy]