Upaya peningkatan kemampuan juga dilakukan pada sistem Iron Dome yang kini disebut mampu menjangkau ancaman hingga ratusan kilometer termasuk drone.
"Hari ini, sistem tersebut mampu mencegat roket pada jarak ratusan kilometer serta drone," jelasnya.
Baca Juga:
Hanya Pekerja Kreatif, Amsal Sitepu Bantah Tuduhan Mark Up Proyek Video Profil Desa di Karo
Tekanan terhadap sistem pertahanan Israel semakin besar setelah Iran meluncurkan lebih dari 400 rudal dan ratusan drone ke wilayahnya.
Situasi diperburuk oleh serangan harian dari kelompok Hizbullah yang turut menambah beban pertahanan udara Israel.
Kondisi ini membuat militer Israel berada dalam dilema antara menghemat stok interseptor atau mencegat seluruh ancaman dengan risiko kehabisan persenjataan dalam waktu singkat.
Baca Juga:
Hemat Energi atau Ganggu Produktivitas? WFH Segera Diumumkan
Dampak dari kebijakan ini mulai dirasakan warga sipil, terutama di wilayah strategis seperti Dimona yang menjadi lokasi fasilitas nuklir utama Israel.
"Ini belum berakhir, kami terus diingatkan setiap beberapa jam melalui peringatan di ponsel, sirene baru, dan ledakan," kata Ahmadiel Ben Yehuda (69), warga Dimona.
Masalah keterbatasan interseptor ini juga terjadi secara global, tidak hanya dialami Israel.