WAHANANEWS.CO, Jakarta - Tekanan lonjakan harga energi global dan memanasnya geopolitik kini mengguncang rantai logistik dunia, memaksa Vietnam mengambil langkah taktis dengan menjadikan ikan nila sebagai penopang utama ekspor perikanan.
Kenaikan harga minyak mentah secara langsung mendorong biaya logistik internasional melonjak tajam, sehingga memaksa pelaku industri melakukan penyesuaian strategi untuk menjaga daya saing produk di pasar global.
Baca Juga:
Bupati dan Wakil Bupati Karo Tebar Ratusan Ribu Benih Ikan Nila di Tambak Mbelang Desa Susuk
Sebagai respons, industri perikanan Vietnam mulai mengalihkan fokus pada komoditas ikan nila sebagai bantalan stabilitas di tengah mahalnya biaya angkut laut.
Langkah ini diambil untuk memastikan kinerja ekspor tetap terjaga meskipun tekanan biaya operasional terus meningkat akibat ketidakpastian pasar energi global.
Ekspor ikan nila Vietnam saat ini tengah mengalami pertumbuhan signifikan seiring meningkatnya permintaan global terhadap alternatif ikan daging putih.
Baca Juga:
BLUPPB Karawang Bangun 20 Kolam Budidaya Ikan Nila Model Klaster
Pada 2025, nilai ekspor komoditas ini mencapai US$ 99 juta atau melonjak lebih dari 140% dibandingkan tahun sebelumnya.
Memasuki kuartal I-2026, kinerja ekspor semakin menguat dengan nilai mencapai US$ 35 juta atau meningkat hampir 190% secara tahunan.
Dalam menghadapi tingginya biaya logistik, strategi distribusi kini bergeser dengan memprioritaskan pasar yang memiliki jarak lebih dekat guna menekan konsumsi bahan bakar pengiriman.