Ketergantungan pada pasar jarak jauh seperti Amerika Serikat dan Brasil mulai dikurangi karena biaya logistik antarbenua dinilai semakin membebani margin keuntungan.
Pengiriman ke Amerika Serikat menunjukkan tren penurunan, sementara Brasil yang masih menjadi pasar besar juga menyimpan risiko jangka panjang akibat upaya pengembangan akuakultur domestik.
Baca Juga:
Bupati dan Wakil Bupati Karo Tebar Ratusan Ribu Benih Ikan Nila di Tambak Mbelang Desa Susuk
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, eksportir Vietnam mulai menerapkan strategi jalur distribusi ganda yang dinilai lebih efisien dari sisi logistik.
Pendekatan ini dilakukan dengan memperkuat penetrasi ke pasar regional melalui pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas serta meningkatkan penyerapan di pasar domestik yang memiliki populasi lebih dari 100 juta jiwa.
Efektivitas strategi ini tercermin dari lonjakan ekspor ke kawasan ASEAN yang mampu tumbuh hingga 400%.
Baca Juga:
BLUPPB Karawang Bangun 20 Kolam Budidaya Ikan Nila Model Klaster
Pemerintah Vietnam juga mulai menempatkan ikan nila sebagai pilar strategis ketiga dalam sektor perikanan nasional, mendampingi komoditas unggulan seperti udang dan ikan patin.
Dengan dukungan sekitar 1,3 juta hektare area perairan potensial, pemerintah terus mendorong pengembangan akuakultur berbasis teknologi serta penerapan standar internasional seperti VietGAP dan GlobalGAP.
Permintaan global terhadap ikan nila diproyeksikan terus meningkat dengan pertumbuhan sekitar 13% per tahun hingga mencapai nilai pasar US$ 20 miliar pada 2030.