Pada awal tahun ini kabinet Spanyol menyetujui RUU yang akan memberikan cuti medis berbayar bagi perempuan yang menderita nyeri haid parah. Spanyol menjadi negara Eropa pertama yang mengajukan undang-undang tersebut.
Namun, undang-undang yang diusulkan masih harus disetujui oleh parlemen Spanyol.
Baca Juga:
Belasan Nakes Pilih Tetap Bekerja Meski Tanpa Digaji Usai Dipecat Bupati Taput, Ini Alasannya
Di bawah Undang-Undang Kesetaraan Gender dalam Ketenagakerjaan Taiwan, perempuan diizinkan "cuti menstruasi" selama tiga hari per tahun. Cuti tersebut tidak dipotong dari cuti sakit reguler selama 30 hari.
Karyawan tidak perlu memberikan dokumentasi dan pemberi kerja tidak boleh menolak atau menghukum pekerja yang mengambil cuti menstruasi.
Namun, seperti cuti sakit pada umumnya, pekerja yang sedang cuti haid hanya menerima 50 persen dari gaji mereka.
Baca Juga:
Hadir di Indonesia, BrainEye Bakal Jadi Solusi Kesehatan Otak Berbasis Teknologi AI
Taiwan telah membangun reputasi sebagai salah satu negara demokrasi yang paling progresif di Asia. Porsi perempuan di legislatif Taiwan mencapai 38 persen, salah satu proporsi tertinggi di dunia.
Tsai Ing-wen, Presiden perempuan pertama Taiwan, pertama kali terpilih pada 2016 dan memenangkan masa jabatan kedua pada dua tahun lalu.
Taiwan menjadi negara pertama, dan masih satu-satunya di Asia yang melegalkan pernikahan gay pada 2019. [Tio]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.