WAHANANEWS.CO, Jakarta - UN Children’s Fund (UNICEF) mengumumkan bahwa jumlah anak yang meninggal dunia di Jalur Gaza sepanjang Desember 2025 kembali bertambah.
Anak keenam dilaporkan tewas di tengah situasi kemanusiaan yang kian memburuk akibat kombinasi cuaca musim dingin ekstrem dan konflik berkepanjangan antara Israel dan Hamas.
Baca Juga:
WHO Cabut Status KLB Polio Indonesia, Pemerintah Tingkatkan Kewaspadaan
Dalam pernyataan resminya, UNICEF menyebut korban terbaru bernama Ata Mai, seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun.
Ata dilaporkan tenggelam pada 27 Desember 2025 setelah banjir besar melanda sebuah kamp darurat pengungsi internal di wilayah Sudaniyeh, barat laut Kota Gaza.
Kematian Ata menambah daftar panjang korban anak-anak yang meninggal akibat kondisi hidup yang tidak layak selama musim dingin, diperparah dengan minimnya akses terhadap tempat berlindung yang aman.
Baca Juga:
Obesitas Anak Meningkat, UNICEF Desak Regulasi Ketat Industri Makanan
Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Edouard Beigbeder, menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi tersebut, sebagaimana dilansir UN News.
"Tim yang mengunjungi kamp-kamp pengungsi melaporkan kondisi mengerikan yang seharusnya tidak dialami oleh seorang anak pun. Dengan banyak tenda yang tertiup angin atau roboh sepenuhnya," ujarnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Ata tinggal di sebuah kamp pengungsian yang terdiri dari sekitar 40 tenda.
Ia dilaporkan menghilang pada suatu sore hari ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Upaya pencarian dan penyelamatan sempat dilakukan dengan dukungan alat berat, namun jenazah Ata baru berhasil ditemukan beberapa jam kemudian.
UNICEF juga mencatat bahwa seluruh saudara Ata masih berusia di bawah 10 tahun. Keluarga tersebut sebelumnya telah kehilangan ibu mereka akibat perang yang terus berlangsung.
Menurut Beigbeder, lembaga PBB itu kini memberikan pendampingan langsung kepada keluarga korban.
“UNICEF saat ini mendukung keluarga tersebut dengan bantuan penting, termasuk selimut, terpal, dan dukungan psikososial, sambil menilai kebutuhan mereka yang lebih luas,” ucap Beigbeder menambahkan.
Ia juga menegaskan bahwa tragedi serupa tidak hanya menimpa Ata. “Selain Ata Mai, setidaknya lima anak lainnya telah kehilangan nyawa mereka bulan ini. Setelah mereka terpapar kondisi yang sangat keras," katanya.
Di seluruh wilayah Gaza, kebutuhan akan tempat tinggal dinilai semakin mendesak. Lebih dari 1,9 juta warga kini hidup dalam kondisi pengungsian, sementara pasokan bantuan berupa tempat berlindung yang masuk ke wilayah tersebut masih sangat terbatas dan jauh dari mencukupi.
Secara khusus, para pengungsi internal yang bertahan di tenda-tenda tua atau tempat penampungan darurat harus menghadapi hujan berkepanjangan, angin kencang, serta suhu yang mendekati titik beku.
Tim kemanusiaan berulang kali memperingatkan risiko serius yang dihadapi anak-anak, terutama mereka yang mengalami kekurangan gizi, serta kelompok rentan lainnya, akibat tenda yang kerap terendam banjir.
Dalam pembaruan situasi yang dirilis pada Selasa, Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) mengonfirmasi terjadinya banjir bandang menyusul badai hujan terbaru.
Dampak paling parah dirasakan oleh warga yang tinggal di dataran rendah, kawasan pesisir, serta mereka yang berlindung di bangunan dan tenda yang tidak layak.
Air laut kembali merendam tenda-tenda pengungsi, termasuk di wilayah Al Mawasi, Khan Younis. Kondisi tersebut membuat banyak tempat penampungan tidak lagi dapat dihuni.
Curah hujan tinggi memaksa banyak keluarga yang sebelumnya telah berulang kali mengungsi akibat konflik untuk kembali berpindah ke lokasi yang lebih tinggi setelah seluruh barang kebutuhan mereka basah dan rusak.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]