Ia dilaporkan menghilang pada suatu sore hari ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Upaya pencarian dan penyelamatan sempat dilakukan dengan dukungan alat berat, namun jenazah Ata baru berhasil ditemukan beberapa jam kemudian.
Baca Juga:
WHO Cabut Status KLB Polio Indonesia, Pemerintah Tingkatkan Kewaspadaan
UNICEF juga mencatat bahwa seluruh saudara Ata masih berusia di bawah 10 tahun. Keluarga tersebut sebelumnya telah kehilangan ibu mereka akibat perang yang terus berlangsung.
Menurut Beigbeder, lembaga PBB itu kini memberikan pendampingan langsung kepada keluarga korban.
“UNICEF saat ini mendukung keluarga tersebut dengan bantuan penting, termasuk selimut, terpal, dan dukungan psikososial, sambil menilai kebutuhan mereka yang lebih luas,” ucap Beigbeder menambahkan.
Baca Juga:
Obesitas Anak Meningkat, UNICEF Desak Regulasi Ketat Industri Makanan
Ia juga menegaskan bahwa tragedi serupa tidak hanya menimpa Ata. “Selain Ata Mai, setidaknya lima anak lainnya telah kehilangan nyawa mereka bulan ini. Setelah mereka terpapar kondisi yang sangat keras," katanya.
Di seluruh wilayah Gaza, kebutuhan akan tempat tinggal dinilai semakin mendesak. Lebih dari 1,9 juta warga kini hidup dalam kondisi pengungsian, sementara pasokan bantuan berupa tempat berlindung yang masuk ke wilayah tersebut masih sangat terbatas dan jauh dari mencukupi.
Secara khusus, para pengungsi internal yang bertahan di tenda-tenda tua atau tempat penampungan darurat harus menghadapi hujan berkepanjangan, angin kencang, serta suhu yang mendekati titik beku.