Dengan situasi gempa yang terjadi di tengah perang, TNLA, bersama tiga kelompok sekutu lainnya, termasuk Tentara Arakan, mengumumkan gencatan senjata sepihak untuk memfasilitasi upaya kemanusiaan internasional. Gencatan senjata itu akan berlangsung selama satu bulan, di mana aliansi berjanji untuk menahan diri dari operasi ofensif dan hanya terlibat dalam pembelaan diri jika perlu.
Namun junta menolak usulan ini. Min Aung Hlaing menuduh organisasi etnis bersenjata menggunakan jeda tersebut untuk berkumpul kembali dan melakukan pelatihan militer.
Baca Juga:
Picu Gempa Myanmar 7,7 Manitudo, Apa Itu Sesar Sagaing?
"Tatmadaw (militer) tidak melancarkan serangan apa pun terhadap kamp-kamp kelompok etnis bersenjata tetapi hanya menanggapi ketika diserang," kata Min Aung Hlaing, merujuk pada militer junta.
"Pemerintah terus membuka pintu untuk bertemu dan berdiskusi dengan semua organisasi etnis bersenjata untuk melakukan upaya perdamaian yang efektif."
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.