WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah muncul analisis yang menyebut Presiden AS Donald Trump tengah mencari jalan keluar diplomatik demi menyelamatkan citra politiknya di tengah kebuntuan konflik Selat Hormuz pada Jumat (8/5/2026).
“Trump berharap untuk mencapai sesuatu sebelum melakukan perjalanan ke China, tetapi ia gagal dalam upayanya untuk membuka kembali Selat Hormuz dengan paksa,” ujar analis Iran, Ali Akbar Dareini, kepada Al Jazeera.
Baca Juga:
AS dan Iran Saling Serang Lagi, Trump: Itu Cuma Love Tap
Dareini yang berbasis di Teheran dan tergabung dalam Pusat Studi Strategis mengatakan dirinya belum melihat adanya indikasi kuat bahwa kesepakatan antara Washington dan Teheran akan segera tercapai dalam waktu dekat.
Menurut dia, pemerintah AS disebut terlalu percaya pada narasi yang berkembang dari Israel dan kelompok lobi pro-Israel di Amerika Serikat terkait kemungkinan Iran akan menyerah jika ditekan secara militer.
“Ia dijejali narasi oleh Israel dan lobi Israel di AS bahwa jika Anda melancarkan serangan terhadap Iran, Iran akan mundur dan menyerah,” katanya.
Baca Juga:
Kawasan Timur Tengah Kembali Memanas, AS Tembak Kapal Tanker Iran di Selat Hormuz
Ia menilai asumsi tersebut justru berbanding terbalik dengan realitas di lapangan karena Iran disebut tetap mempertahankan posisinya di tengah tekanan internasional maupun ancaman militer.
“Iran belum menyerah dan tidak akan menyerah bahkan dalam sejuta tahun,” tegas Dareini.
Di sisi lain, analis hubungan internasional dan dosen tamu di King's College London, Samir Puri, memandang baik AS maupun Iran sebenarnya sama-sama tidak menginginkan konflik besar kembali pecah di kawasan Timur Tengah.
Ia menjelaskan kedua negara kini lebih berfokus mencari formula kompromi yang memungkinkan masing-masing pihak tetap dapat membangun “narasi kemenangan” di depan publik domestik mereka.
“Resolusi membutuhkan seni mediasi konflik,” ujar Puri.
Menurutnya, negara-negara lain termasuk Pakistan memiliki peluang memainkan peran penting sebagai mediator untuk membantu membuka ruang komunikasi antara Washington dan Teheran.
“Pakistan memiliki peran besar dalam hal ini,” lanjutnya.
Puri juga menyebut pemerintahan Trump berusaha menghindari model kesepakatan seperti Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang dibuat pada era Presiden Barack Obama karena dianggap terlalu longgar dalam mengawasi program nuklir Iran.
Sementara itu, Iran disebut tetap berupaya mempertahankan pengaruh dan otoritas strategisnya atas Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia.
“Ini adalah formula yang kompleks untuk memungkinkan kedua pihak merasa telah mencapai sesuatu yang sukses,” ungkap Puri.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]