WAHANANEWS.CO, Jakarta - Wacana kontroversial kembali dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan membuka peluang mengenakan tarif bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz di tengah memanasnya konflik dengan Iran.
Gagasan tersebut muncul saat Trump menanggapi situasi di mana Iran disebut telah lebih dulu memberlakukan biaya bagi kapal yang melintas di jalur strategis tersebut.
Baca Juga:
Trump Disamakan dengan Yesus, Media Sosial Bereaksi Keras
“Bagaimana kalau kita yang mengenakan tarif?” kata Donald Trump.
Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Senin (6/4/2026).
Trump menilai langkah tersebut lebih menguntungkan dibanding membiarkan Iran memperoleh keuntungan dari jalur energi vital dunia tersebut.
Baca Juga:
Iran Klaim Hantam 500 Tentara AS di Dubai
“Saya lebih memilih melakukan itu daripada membiarkan mereka mendapatkannya. Kenapa tidak? Kita adalah pemenangnya,” ujar Donald Trump.
Ia juga kembali menegaskan klaim bahwa Iran telah kalah secara militer dalam konflik yang berlangsung.
“Kita menang, oke? Mereka sudah kalah secara militer. Satu-satunya yang mereka punya adalah psikologi ‘oh, kita akan menjatuhkan beberapa ranjau di air,’” kata Donald Trump.
Trump bahkan menyebut bahwa pihaknya telah memiliki konsep kebijakan untuk mengenakan tarif tersebut.
“Kita punya konsep di mana kita akan mengenakan tarif,” ujar Donald Trump.
Meski demikian, ia menekankan bahwa setiap kesepakatan dengan Iran harus menjamin kebebasan lalu lintas minyak di kawasan tersebut.
“Kita harus memiliki kesepakatan yang bisa saya terima, dan bagian dari kesepakatan itu adalah kita ingin lalu lintas minyak yang bebas,” kata Donald Trump.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia dan menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi global.
Sebelum konflik memanas, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia melintasi jalur ini.
Penutupan efektif jalur tersebut selama konflik telah memicu lonjakan harga energi global, termasuk harga bahan bakar di Amerika Serikat.
Pada Senin (6/4/2026), harga rata-rata bensin nasional di AS tercatat sekitar 4,12 dolar AS per galon atau meningkat lebih dari 1 dolar sejak konflik dimulai.
Di sisi lain, Iran dilaporkan telah menerapkan sistem pembatasan kapal yang melintas dengan kewajiban pembayaran tertentu.
Trump juga mengeluarkan ultimatum keras kepada Teheran agar segera membuka kembali Selat Hormuz dan menerima syarat dari Washington.
Jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, ia mengancam akan menargetkan infrastruktur sipil Iran seperti jembatan dan pembangkit listrik.
Dari pihak Iran, wacana pengaturan baru pascakonflik mulai mengemuka.
“Saya percaya setelah perang, langkah pertama adalah menyusun protokol baru untuk Selat Hormuz,” ujar Mohammad Bagher Ghalibaf.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa situasi di Selat Hormuz diperkirakan tidak akan kembali seperti sebelum konflik.
“Tentu saja, ini harus dilakukan antara negara-negara yang berada di kedua sisi selat,” kata Abbas Araghchi.
Sejumlah analis menilai, penerapan tarif oleh Amerika Serikat akan membutuhkan kontrol militer langsung atas Selat Hormuz yang berpotensi memicu eskalasi konflik lebih lanjut.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]