WAHANANEWS.CO, Jakarta - Amerika Serikat resmi mulai menjual minyak mentah Venezuela setelah menuntaskan transaksi perdana senilai 500 juta dollar AS atau sekitar Rp 8,4 triliun, sebuah langkah yang langsung memicu sorotan global.
Seorang pejabat pemerintahan AS menyatakan penjualan awal tersebut telah selesai dan menjadi pembuka dari rencana besar pemanfaatan cadangan minyak Venezuela.
Baca Juga:
Sumur Minyak Tua Sudah 6 Tahun Mati, “Meledak” Produksi 1.097 BOPD di Laut Jawa
“Penjualan perdana ini sudah rampung,” kata pejabat tersebut.
Pejabat yang sama menambahkan, penjualan minyak tambahan diperkirakan berlangsung dalam beberapa hari hingga pekan ke depan, sebagaimana perkembangan yang terjadi pada Rabu (14/1/2026).
Langkah ini terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro pada awal Januari 2026.
Baca Juga:
Ini Sebaran Sumur Minyak di Jambi yang Dikelola Masyarakat, Paling Banyak di Batanghari
Sejak operasi itu berlangsung, Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengungkapkan ambisinya untuk mengakses cadangan minyak Venezuela yang dikenal sebagai salah satu terbesar di dunia.
Pada Jumat (9/1/2026), Trump menyampaikan klaim bahwa industri minyak akan menanamkan investasi sedikitnya 100 miliar dollar AS untuk membangun kembali sektor energi Venezuela yang telah lama terpuruk.
Namun, hingga kini Trump tidak pernah memaparkan dasar perhitungan dari angka investasi fantastis tersebut.
Rencana agresif pemerintahan Trump itu justru menuai keraguan dari kalangan eksekutif energi Amerika Serikat.
Sikap skeptis tersebut mencuat dalam pertemuan tertutup antara para petinggi perusahaan energi dengan pejabat Gedung Putih yang digelar pada Jumat (9/1/2026).
CEO ExxonMobil Darren Woods secara terbuka mengungkapkan hambatan serius dalam menjalankan bisnis migas di Venezuela.
“Ini tidak dapat diinvestasikan,” ujar Woods.
Ia menekankan masih banyak persoalan mendasar yang belum terselesaikan sebelum investasi besar dapat direalisasikan di negara Amerika Latin tersebut.
“Ada sejumlah kerangka hukum dan komersial yang harus dibentuk untuk memahami jenis keuntungan apa yang bisa kami peroleh dari investasi tersebut,” kata Woods.
Pandangan senada juga disampaikan oleh sejumlah eksekutif energi lain dalam forum yang sama.
Setelah pertemuan panjang di Gedung Putih berakhir pada Jumat (9/1/2026), Trump dan para pembantunya keluar tanpa membawa komitmen konkret dari perusahaan-perusahaan energi untuk menanamkan investasi miliaran dollar AS di Venezuela.
Hingga Rabu (14/1/2026), rincian teknis terkait penjualan minyak perdana tersebut masih belum dibuka secara gamblang kepada publik.
Meski demikian, juru bicara Gedung Putih Taylor Rogers menegaskan bahwa pemerintahan Trump terus menjaga komunikasi dengan pelaku industri energi.
“Tim Presiden Trump memfasilitasi diskusi positif dan berkelanjutan dengan perusahaan-perusahaan minyak yang siap dan bersedia melakukan investasi yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memulihkan infrastruktur minyak Venezuela,” kata Rogers dalam pernyataan resminya.
Di sisi lain, laporan Reuters pada Rabu (14/1/2026) mengungkapkan bahwa minyak mentah Venezuela kini ditawarkan kepada para pedagang dengan harga diskon.
Harga tersebut disebut lebih murah dibandingkan minyak dari sejumlah negara pesaing, termasuk Kanada.
Strategi banting harga ini mencerminkan upaya Amerika Serikat untuk menarik minat pasar di tengah ketidakpastian investasi serta kondisi politik Venezuela yang masih bergejolak.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]