Pada Sabtu (11/4/2026), Paus mendesak para pemimpin dunia untuk mengakhiri perang dan menghindari eskalasi sejak serangan udara AS-Israel ke Iran pada 28 Februari.
“Inilah tuhan kita, Yesus Raja Damai, yang menolak perang, yang tidak dapat digunakan siapa pun untuk membenarkan perang,” kata Paus Leo dalam homilinya di Vatikan, Minggu (29/3/2026).
Baca Juga:
Somalia Paling Rendah, Indonesia Urutan Berapa? Ini Daftar IQ Negara Dunia 2025
Paus juga menegaskan bahwa ajaran agama tidak boleh dijadikan legitimasi untuk konflik bersenjata di tengah meningkatnya ketegangan global.
Merespons kritik tersebut, Trump kembali menyerang dengan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pandangan Paus yang menilai kebijakan Amerika sebagai sesuatu yang keliru.
“Saya tidak menginginkan seorang Paus yang berpikir bahwa tidak apa-apa bagi Iran untuk memiliki Senjata Nuklir,” tulis Trump dalam unggahan lainnya pada Minggu (12/4/2026) malam.
Baca Juga:
Polisi Tetapkan 5 Tersangka Kasus Tewasnya Terduga Pencuri Ayam di Bali, Pelaku Bisa Bertambah
Pernyataan itu memperlihatkan jurang perbedaan tajam antara pendekatan diplomasi moral Vatikan dan kebijakan keras Washington dalam menghadapi Iran.
“Saya (juga) tidak menginginkan seorang Paus yang berpikir bahwa sangat buruk bahwa Amerika menyerang Venezuela, sebuah negara yang mengirimkan sejumlah besar narkoba ke Amerika Serikat dan, yang lebih buruk lagi, mengosongkan penjara mereka, termasuk para pembunuh, pengedar narkoba, dan penjahat, ke negara kami,” lanjut Trump.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.