WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel memasuki babak baru setelah Presiden Donald Trump menolak usulan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mendorong rakyat Iran turun ke jalan melawan pemerintahnya.
Penolakan tersebut muncul di tengah meningkatnya konflik regional yang melibatkan Iran, serta perbedaan pendekatan antara Washington dan Tel Aviv dalam menghadapi Teheran.
Baca Juga:
Efek Perang Timur Tengah: Asia Serbu Minyak Rusia, Stok Terancam
Usulan Netanyahu bertujuan memberikan tekanan psikologis terhadap rezim Iran dengan memanfaatkan potensi ketidakpuasan domestik.
Namun Trump menilai langkah itu berisiko tinggi dan dapat memicu kekerasan terhadap warga sipil Iran.
“Kenapa kita harus menyuruh orang turun ke jalan kalau mereka hanya akan ditembaki?” kata Trump.
Baca Juga:
Ketua Ikasa "93" Resmikan Masjid Aisyah di Kecamatan Binjai Barat Kota Binjai Sumatera Utara
Ia juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa seruan aksi justru berpotensi memicu pembantaian massal dan memperburuk situasi kemanusiaan.
Penolakan ini sekaligus menegaskan bahwa kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran tidak sepenuhnya sejalan dengan strategi Israel.
Hubungan erat kedua negara kini diuji oleh perbedaan pendekatan dalam penggunaan tekanan militer maupun langkah diplomatik.
Sementara Israel tetap mendorong strategi agresif untuk melemahkan bahkan menggulingkan rezim Iran, Amerika Serikat mulai menunjukkan sikap yang lebih berhati-hati.
Menurut laporan yang dikutip pada Rabu (25/3/2026), Netanyahu meyakini kondisi internal Iran sedang rapuh dan membuka peluang untuk mengguncang kekuasaan.
Ia bahkan sebelumnya menyampaikan pesan langsung kepada rakyat Iran agar memanfaatkan momentum tersebut.
“Pesawat kami menyerang para pelaku teror di lapangan, di persimpangan, di alun-alun kota. Jadi keluarlah dan rayakan. Kami mengawasi dari atas,” ujar Netanyahu.
Meski demikian, respons masyarakat Iran terhadap seruan aksi tersebut relatif minim.
Momentum festival Chaharshanbe Suri yang sempat diprediksi menjadi titik awal demonstrasi besar tidak menunjukkan pergerakan signifikan dari warga.
Faktor ketakutan terhadap represifitas aparat disebut menjadi salah satu alasan utama minimnya partisipasi publik.
Laporan kelompok hak asasi manusia sebelumnya menyebut ribuan demonstran telah tewas dalam aksi protes sebelum konflik meningkat, bahkan jumlah korban diperkirakan bisa mencapai puluhan ribu.
Penilaian intelijen Amerika Serikat juga menunjukkan bahwa rezim Iran kemungkinan masih mampu bertahan meski berada di bawah tekanan militer dan ekonomi.
Di sisi lain, konflik bersenjata terus berlanjut dengan dampak yang semakin luas.
Sejak Jumat (28/2/2026), Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Iran yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan drone dan rudal ke Israel serta sejumlah lokasi yang menampung aset militer Amerika Serikat di kawasan.
Serangan balasan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan sektor penerbangan.
Situasi ini memperlihatkan bahwa meski memiliki tujuan yang sama, yakni menekan Iran, Amerika Serikat dan Israel kini berjalan dengan strategi dan tingkat risiko yang berbeda.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]