WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kian memanas tanpa tanda mereda, bahkan diwarnai perang strategi, ancaman terbuka, hingga perang psikologis yang menyita perhatian dunia.
Perkembangan konflik kedua negara dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan eskalasi serius, mulai dari taktik militer hingga pernyataan keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Teheran.
Baca Juga:
Tujuh Kapal Malaysia Bebas Meluncur di Selat Hormuz, Anwar: Cukup Telepon Iran Sekali
Laporan intelijen Amerika Serikat mengungkap bahwa Iran diduga menggunakan senjata palsu sebagai bagian dari strategi untuk mengecoh serangan AS dan sekutunya.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa sejumlah peluncur rudal tiruan sengaja ditempatkan agar menjadi target serangan, sehingga mengaburkan kemampuan militer sebenarnya.
Sejumlah pejabat AS mengakui hingga kini pihaknya belum dapat memastikan berapa banyak peluncur rudal asli milik Iran yang benar-benar berhasil dihancurkan.
Baca Juga:
Ancaman Trump Soal Penutupan Selat Hormuz, Iran Respons Tuntut Konpensasi
Situasi ini memperlihatkan bahwa perang tidak hanya berlangsung secara fisik, tetapi juga melalui taktik manipulasi dan pengelabuan di lapangan.
Di sisi lain, Iran merespons keras ancaman terbaru dari Presiden Donald Trump yang berencana melancarkan serangan lanjutan terhadap wilayahnya.
"Reaksi Iran akan melakukan pembalasan terkait serangan apapun, Angkatan Bersenjata kami sudah sangat jelas bahwa serangan terhadap infrastruktur kritis, kita akan membalasnya," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, Senin (6/4/2026).