WAHANANEWS.CO, Jakarta - Seruan mengejutkan datang dari seorang akademisi Uni Emirat Arab yang meminta peninjauan ulang kehadiran militer Amerika Serikat di wilayahnya di tengah meningkatnya kemampuan pertahanan nasional.
Dalam pandangannya, negara Teluk tersebut dinilai tidak lagi membutuhkan perlindungan langsung dari Amerika karena telah mampu mempertahankan diri secara mandiri dalam situasi konflik terbaru.
Baca Juga:
Bareskrim Bongkar Sindikat HP Ilegal Rp235 Miliar, Ribuan iPhone Disita
Dr Abdulkhaleq Abdulla, profesor ilmu politik, dalam laporan yang dikutip Selasa (21/4/2026), menilai bahwa pengalaman menghadapi serangan Iran menjadi bukti nyata kemampuan pertahanan UEA tanpa ketergantungan pada pasukan asing.
“UEA tidak lagi membutuhkan Amerika untuk membelanya, karena telah terbukti selama agresi Iran bahwa mereka mampu membela diri dengan gemilang.”
Ia menegaskan bahwa fase saat ini menjadi momentum penting untuk mempertimbangkan masa depan keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah tersebut.
Baca Juga:
Drama Rumah Tangga Berujung Hukum, Suami Diduga Gelapkan Uang Mertua Rp4,7 Miliar
Menurutnya, kebutuhan utama UEA bukan lagi kehadiran pasukan, melainkan akses terhadap teknologi dan persenjataan militer mutakhir.
“Yang dibutuhkan UEA adalah memperoleh hanya senjata terbaik dan terbaru yang dimiliki Amerika.”
Ia juga menilai bahwa keberadaan pangkalan militer asing justru berpotensi menjadi beban strategis daripada memberikan manfaat jangka panjang.
“Oleh karena itu, sudah saatnya untuk memikirkan penutupan pangkalan-pangkalan Amerika, karena pangkalan-pangkalan tersebut merupakan beban dan bukan aset strategis.”
Lebih lanjut, Abdulla memperingatkan bahwa keberlanjutan kehadiran militer AS dapat menyeret UEA ke dalam konflik regional yang sebenarnya bukan bagian dari kepentingan langsung negara tersebut.
Pandangan berbeda disampaikan oleh Nadim Koteich, komentator yang berbasis di UEA, yang menilai hubungan antara Washington dan Abu Dhabi tidak bisa dipersempit hanya pada aspek militer semata.
“Washington telah terbukti sebagai sekutu yang dapat diandalkan di setiap bidang penting, dan tidak ada yang lebih terlihat daripada selama perang ini.”
Ia menilai bahwa melihat hubungan tersebut hanya dari sisi keamanan merupakan kesalahan dalam memahami kedalaman aliansi kedua negara.
“Namun, mereduksi hubungan hanya pada dimensi militer dan keamanannya salah menafsirkan apa yang sebenarnya telah menjadi aliansi tersebut, dan mengarah pada kesimpulan yang terburu-buru.”
Koteich juga menekankan bahwa Amerika Serikat telah menjadikan UEA sebagai mitra strategis dalam sektor teknologi dan industri di kawasan.
“Memperkuat poros Abu Dhabi-Washington adalah jalan ke depan, didukung oleh jaringan pilar keuangan, regulasi, energi, dan pertahanan yang canggih yang sudah ada.”
Menanggapi hal tersebut, Abdulla kembali menegaskan bahwa hubungan antara kedua negara tetap penting dan akan terus berkembang ke depan.
“Namun, sudah saatnya untuk meninjau nilai tambah pangkalan AS terhadap portofolio pertahanan nasional kita.”
Di sisi lain, data menunjukkan bahwa Amerika Serikat memiliki sedikitnya 19 pangkalan militer di Timur Tengah, dengan delapan di antaranya bersifat permanen, serta sekitar 40.000 personel sebelum konflik terbaru.
UEA sendiri menjadi lokasi bagi sekitar 3.500 tentara AS dan pangkalan udara al-Dhafra yang digunakan bersama oleh Amerika Serikat, Prancis, dan UEA.
Sejak konflik meningkat pada akhir Februari, wilayah Teluk, termasuk UEA, menjadi sasaran serangan balasan dari Iran berupa rudal dan drone dalam jumlah besar.
Tercatat ratusan rudal balistik, ribuan drone, serta sejumlah rudal jelajah telah diluncurkan ke wilayah Emirat hingga akhir Maret.
Dampak konflik tersebut tidak hanya dirasakan dari sisi keamanan, tetapi juga mengguncang sektor ekonomi UEA yang sangat bergantung pada pariwisata, properti, logistik, dan keuangan.
Lebih dari USD120 miliar dilaporkan hilang dari kapitalisasi pasar di bursa saham Dubai dan Abu Dhabi dalam waktu singkat.
Selain itu, puluhan ribu penerbangan dibatalkan dan indeks properti Dubai mengalami penurunan signifikan sejak konflik dimulai.
Meski sebagian besar serangan berhasil dicegah, puing-puing tetap menyebabkan kerusakan di sejumlah lokasi penting seperti Abu Dhabi, Dubai, hingga kawasan industri energi.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]