WAHANANEWS.CO, Kota Depok– Rumah Sakit Universita Indonesia (RSUI) melepas keterangan pers dengan mengutip data dari World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDCP) bahwa campak ‘measles’ termasuk suatu penyakit paling menular di dunia.
Demikian pula, laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, terdata puluhan ribu kasus suspek campak tercatat sepanjang 2025 hingga awal 2026, Demikian lepasan pers Humas RSUI, Jalan Prof Dr Bahder Djohan,Kampus UI Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (14/4/2026).
Baca Juga:
Kadis Kesehatan DKI Minta Warga Waspadai Penularan Campak Saat Silaturahmi Lebaran
“Penyakit campak atau measles masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama pada anak-anak dan kelompok dengan daya tahan tubuh rendah. Tingginya tingkat penularan membuat penyakit yang disebabkan oleh viral morbillivirus ini yang terus ditemukan di berbagai wilayah dunia, termasuk di Indonesia,” ujar dokter spesialis anak RSUI Shofa Nisrina Luthfiyani.
Sebut Shofa, gejala awal campak kerap menyerupai infeksi saluran pernapasan biasa. Umumnya diawali dengan gejala seperti demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah. Kemudian, dalam beberapa hari, akan muncul ruam kemerahan yang dimulai dari wajah, telinga dan menyebar ke seluruh tubuh.
“Tanda khas lain yang sering muncul adalah bercak putih di dalam mulut yang dikenal sebagai bercak Koplik,” bilangnyi.
Baca Juga:
Lonjakan Campak 2026 Picu KLB di 11 Provinsi, Komisi IX Minta Aksi Cepat Pemerintah
Penularan campak, kata Shofa, terjadi melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin. Virusnya bahkan dapat bertahan di udara maupun menempel pada permukaan benda dalam waktu tertentu, sehingga meningkatkan risiko penyebaran secara luas.
Kelompok yang paling rentan terinfeksi antara lain adalah anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi, orang dewasa yang belum pernah divaksin, serta individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah. Jika tidak ditangani dengan tepat, campak dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, diare, infeksi telinga, hingga radang otak ‘ensefalitis’.
Menurut Shofa, langkah pencegahan paling efektif adalah imunisasi. Upaya pencegahan paling efektif adalah melalui imunisasi measles, mumps, rubella (MMR).
Selain imunisasi, masyarakat juga diimbau untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti rutin mencuci tangan, menggunakan masker saat sakit, serta menghindari kontak langsung dengan penderita.
Warga juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala seperti demam tinggi lebih dari tiga hari, ruam luas, sesak napas, atau penurunan kesadaran. Penanganan dini dinilai krusial untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.
Rumah Sakit Universitas Indonesia turut menyediakan layanan pemeriksaan dan penanganan penyakit infeksi, termasuk campak, dengan dukungan tenaga medis serta fasilitas diagnostik yang memadai.
Dengan peningkatan kesadaran masyarakat, cakupan imunisasi yang optimal, serta deteksi dini, penyebaran campak diharapkan dapat ditekan dan risiko komplikasi bisa diminimalkan.
[Redaktur: Hendrik I Raseukiy]