WAHANANEWS.CO, Jakarta - Alarm kesehatan nasional berbunyi keras setelah Kementerian Kesehatan mengungkap ada sekitar 2,3 juta anak Indonesia yang belum pernah menerima imunisasi sama sekali.
Data tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah anak zero-dose terbanyak keenam di dunia pada Senin (11/5/2026).
Baca Juga:
Sempat Dilarang Usai Kecelakaan Maut, Pesawat MD-11 Kini Diizinkan Terbang Lagi
Zero-dose adalah istilah untuk anak yang belum pernah mendapatkan satu pun imunisasi dasar.
“Zero-dose ini artinya anak-anak yang belum pernah mendapatkan imunisasi,” kata dr. Gertrudis Tandy, Ketua Tim Kerja Imunisasi Bayi dan Anak Direktorat Imunisasi Kementerian Kesehatan, dalam media briefing di Bandung, Jawa Barat.
Secara operasional, kategori ini diberikan kepada anak usia satu tahun yang belum menerima imunisasi DPT-HB-Hib dosis pertama atau pentavalen pertama.
Baca Juga:
Dipecat Karena Suami Kerja di Perusahaan Kompetitor, Wanita Ini Menang Rp1,75 Miliar
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan World Health Organization, jumlah anak zero-dose terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.
Pada 2023 tercatat 372.965 anak belum imunisasi.
Jumlah itu melonjak menjadi 973.378 anak pada 2024.
Pada 2025, jumlahnya masih sangat tinggi dengan 959.990 anak.
“Secara total jumlahnya kini mencapai sekitar 2,3 juta anak,” ujar Gertrudis.
Kementerian Kesehatan juga mencatat cakupan imunisasi lengkap nasional terus menurun.
Pada 2025, cakupan imunisasi bayi lengkap hanya mencapai 80,2 persen.
Angka tersebut masih jauh di bawah target nasional sebesar 90 persen.
Pada 2026 hingga April, hanya DKI Jakarta yang berhasil memenuhi target cakupan imunisasi bayi bulanan.
Provinsi lain, termasuk Jawa Barat, masih belum mencapai sasaran yang ditetapkan.
Gertrudis mengingatkan rendahnya cakupan imunisasi dapat memicu kejadian luar biasa penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin.
“Kalau akumulasi anak-anak yang tidak mendapat imunisasi ini terkumpul di suatu tempat maka kekebalan kelompok tidak terbentuk dan seterusnya akan terjadi peningkatan kasus dan kemudian kejadian luar biasa,” katanya.
Ia mencontohkan Indonesia sempat mengalami kejadian luar biasa polio.
Akibat kondisi itu, jemaah haji asal Indonesia diwajibkan menerima vaksin polio untuk dapat masuk ke Saudi Arabia.
“Nah, itu karena kenapa? Karena di Indonesia ada laporan dari WHO bahwa Indonesia ada KLB Polio dicatat,” ujar Gertrudis.
Menurutnya, negara lain menjadi waspada karena khawatir tertular penyakit dari Indonesia.
Selain berpotensi memicu wabah, rendahnya imunisasi juga dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.
Anak yang tidak mendapatkan imunisasi berisiko lebih sering sakit, mengalami kecacatan, bahkan meninggal akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.
“Jangka panjangnya tentu anak sakit-sakitan akan berimbas pada ekonomi, sumber daya manusia dan seterusnya,” katanya.
Kementerian Kesehatan menilai banyak faktor yang menyebabkan cakupan imunisasi masih rendah.
Hoaks, keraguan terhadap vaksin, keterbatasan tenaga kesehatan, dan sistem pencatatan digital yang belum optimal menjadi hambatan utama.
Pelacakan anak-anak yang belum imunisasi juga masih menjadi tantangan besar.
“Anak-anaknya di mana itu tantangan tersendiri untuk alamatnya di mana namanya siapa itu pelacakan sasaran,” ujar Gertrudis.
Kementerian Kesehatan pun mengajak pemerintah daerah, kader Posyandu, tokoh agama, dan media untuk bersama-sama mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya imunisasi bagi anak.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]