BPJS Kesehatan mencatat, hingga tahun 2024, total dana yang telah dikucurkan untuk penanganan penyakit berbiaya tinggi mencapai Rp37,28 triliun dengan jumlah kasus sebesar 33,04 juta.
"Gerakan ini kami kembangkan dengan inspirasi latihan interval dari Jepang dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia. Polanya sederhana, fleksibel, dan dapat dilakukan oleh berbagai kelompok usia," kata Rizzky.
Baca Juga:
Masyarakat Diimbau Tak Terlalu Reaktif Tanggapi Wacana Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan
Dari sisi medis, dokter sekaligus pemengaruh kesehatan, Gia Pratama, menilai Gerak 335 sebagai pendekatan yang efektif dan realistis.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa menjaga kesehatan memerlukan biaya besar dan sarana khusus.
"Gerak sedikit, manfaatnya banyak. Aktivitas fisik ringan seperti Gerak 335 sudah cukup untuk memberi dampak positif bagi tubuh jika dilakukan secara rutin saat fase jalan santai, tubuh mulai menggunakan lemak sebagai sumber energi dan membantu melancarkan peredaran darah. Sementara pada fase jalan cepat, tubuh beralih menggunakan gula darah sebagai bahan bakar, sehingga berperan penting dalam menjaga kestabilan kadar gula darah," ucap Gia.
Baca Juga:
BPJS Kesehatan Imbau Jaga Pola Makan dan Rutin Skrining Selama Ramadhan
Gia menambahkan, kombinasi antara jalan santai dan jalan cepat tersebut sangat membantu tubuh dalam mengontrol tekanan darah.
Aktivitas fisik ini juga mampu menurunkan risiko hipertensi dan diabetes yang kerap menjadi pintu masuk berbagai penyakit katastropik.
"Penyakit tidak menular sering berkembang secara perlahan dan tanpa gejala awal yang jelas, sehingga banyak orang baru menyadari saat kondisinya sudah berat dan memerlukan perawatan jangka panjang. Oleh karena itu, pendekatan pencegahan melalui aktivitas fisik sederhana seperti Gerak 335 ini menjadi sangat relevan, yang terpenting adalah kemauan untuk mulai dan konsisten," ujar Gia.