Selain hipertensi, program ini juga menemukan masalah kesehatan lain yang cukup tinggi pada anak usia sekolah.
Tercatat sebanyak 41 persen siswa mengalami gigi berlubang, sedangkan 8,6 persen anak ditemukan mengalami penumpukan kotoran telinga.
Baca Juga:
Polda Jambi Gelar Binrohtal Personel Nasrani, Perkuat Integritas dan Pelayanan Humanis
Namun demikian, kasus tekanan darah tinggi menjadi perhatian utama karena dinilai sebagai tren baru dengan risiko kesehatan jangka panjang yang bisa memengaruhi kualitas generasi muda Indonesia di masa depan.
Sejak diluncurkan pada 2025, program CKG telah menjangkau lebih dari 100 juta penduduk Indonesia meski angka tersebut baru mencakup sekitar sepertiga dari total populasi nasional.
Menurut Qodari, hasil skrining ini harus menjadi alarm besar bagi pemerintah, sekolah, dan keluarga untuk memperkuat edukasi pola hidup sehat sejak usia dini.
Baca Juga:
Danrem 042/Gapu Tekankan Tata Kelola Bersih dalam Rapat Dewan Pengawas Rumkit dr. Bratanata Jambi
“Pemeriksaan rutin di lingkungan sekolah dan kesadaran hidup sehat harus diperkuat agar kasus seperti ini tidak terus meningkat,” katanya.
Berdasarkan rangkuman berbagai sumber kesehatan, hipertensi pada anak dapat dipicu oleh kombinasi faktor gaya hidup, kondisi medis, hingga faktor keturunan.
Konsumsi makanan tinggi garam dan lemak disebut menjadi salah satu pemicu utama karena natrium dapat meningkatkan retensi cairan yang membuat pembuluh darah menyempit.