Menurut Menko PMK, pengalaman para penyintas menunjukkan bahwa tantangan terbesar dalam penanganan kusta bukan hanya aspek medis, tetapi juga masih kuatnya stigma sosial yang menyebabkan diskriminasi terhadap para penyintas.
Oleh sebab itu, peningkatan literasi masyarakat mengenai kusta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya eliminasi penyakit tersebut.
Baca Juga:
Fokus Kemanusiaan dan Lingkungan, Kemenko PMK Dorong Pembangunan Terintegrasi di Papua
"Penanganan lepra (kusta) ini bukan semata-mata isu pengobatan. Pengetahuan menjadi sangat penting, edukasi penting. Oleh karena itu saya menegaskan penanganan lepra adalah penanganan multisektor," katanya.
Pratikno menjelaskan, pendekatan multisektor harus diwujudkan melalui keterlibatan berbagai perangkat daerah dan lembaga terkait.
Selain dinas kesehatan, peran dinas komunikasi dan informatika diperlukan untuk memperluas edukasi publik, sektor pendidikan untuk meningkatkan pemahaman sejak dini, organisasi keagamaan dan organisasi kemasyarakatan dalam membangun kesadaran masyarakat, serta sektor sosial dan ketenagakerjaan untuk mendukung rehabilitasi dan pemberdayaan para penyintas.
Baca Juga:
Kemenko PMK Perkuat Peran Car Free Day untuk Tingkatkan Aktivitas Fisik Masyarakat
Menurutnya, sinergi tersebut akan memperkuat langkah pencegahan, mempercepat penemuan kasus, meningkatkan keberhasilan pengobatan, sekaligus menciptakan lingkungan sosial yang lebih inklusif bagi penyintas kusta.
Lebih lanjut, Pratikno menekankan bahwa pendekatan lintas sektor juga perlu diterapkan dalam penanganan tuberkulosis (TB).
Ia mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi beban kasus kusta dan TB yang tinggi sehingga memerlukan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan.